Faidana Yaumil Syifa
Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Hubungan Durasi Screen Time dengan Gejala Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) Pada Civitas Akademika Hadeci Lovenda Putri; Musiana Musiana; Faidana Yaumil Syifa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.53883

Abstract

The widespread use of electronic devices, such as mobile phones and laptops, has become an integral part of the daily lives of the academic community, including faculty, educational staff, and students. This population exhibits high digital device dependency, with average usage often exceeding five hours per day. This intense and prolonged screen time is hypothesized to potentially trigger or exacerbate the symptoms of Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV), a balance disorder characterized by a sensation of spinning dizziness induced by changes in head position. This study aimed to examine the relationship between screen time duration and BPPV occurrence. A quantitative cross-sectional design was applied with a population of 315 members of the Tanjungkarang D III Nursing Department, including students, lecturers, and educational staff, and 176 respondents selected via purposive sampling. Data were collected using a demographic questionnaire and an adapted BPPV questionnaire. Most respondents (64.2%) reported 6–8 hours of daily screen time , and the median BPPV symptom score was 17.35 (range 9–27). Spearman’s correlation test showed a significant association between screen time and BPPV symptoms (r = 0.237; p = 0.002). BPPV onset is influenced by both mechanical (head position) and visual (sensory conflict) factors. Controlled screen time , regular breaks, and ergonomic practices are recommended to maintain balance.
Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil Tentang Preeklampsia dan Tindakan Pencegahan Kegawatdaruratan Kehamilan Faidana Yaumil Syifa; Efa Trisna
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55756

Abstract

Preeklampsia merupakan kegawatdaruratan kehamilan yang terjadi di usia kehamilan 20 minggu pada ibu yang sebelumnya normotensi, protein urin positif, edema serta kerusakan fungsi organ. Preeklampsia berdampak pada ibu dan janin. Faktor risiko preeklampsia yaitu riwayat preeklampsia, pengetahuan, pola makan, antenatal care (ANC), stres, multiparitas, usia, asap rokok, indeks massa tubuh (IMT), pendidikan, jumlah janin, dan konsumsi kalsium. Preeklampsia dapat dicegah melalui meningkatkan pengetahuan ibu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang preeklampsia dan tindakan pencegahan kegawatdaruratan kehamilan.Penelitian deskriptif analitik ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan melihat distribusi frekuensi dan persentase. Teknik penentuan responden menggunakan consecutive sampling dengan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah responden sebanyak 73 ibu hamil. Hasil yang didapat pada penelitian ini yaitu karakteristik responden berupa usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, usia kehamilan, jumlah kehamilan, IMT, tekanan darah. Mayoritas tingkat pengetahuan responden berada pada rentang baik (38,4%), sikap ibu hamil berada pada rentang cukup (63%) dan tindakan pencegahan kegawatdarutan kehamilan pada rentang baik (47,9%). Kesimpulan, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan pencegaham kegawatdaruratan kehamilan berada pada rentang baik-cukup. Terdapat beberapa faktor risiko tidak berkaitan dengan tingkat pengetahuan dan sikap
Pembentukan Kelompok Mandiri Lansia Penderita Hipertensi melalui Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) di Kelurahan Tanjung Senang, Bandar Lampung Idawati Manurung; Faidana Yaumil Syifa; Dwi Agustanti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i4.25376

Abstract

ABSTRAK Jumlah lansia di dunia pada tahun 2030 diprediksi sebanyak 1,4 miliar dan di tahun 2050 meningkat menjadi 2,1 miliar. Lansia mengalami berbagai perubahan pada aspek fisik, kognitif dan psikososial. Salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dialami lansia yaitu hipertensi. Terapi non farmakologis pada lansia dengan hipertensi yaitu memodifikasi gaya hidup (latihan fisik), nutrisi dan manajemen stres. Latihan fisik dapat dilakukan melalui terapi aktivitas kelompok (TAK). TAK efektif dalam menurunkan tekanan darah. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini untuk membentuk kelompok mandiri lansia yang memiliki hipertensi melalui terapi TAK di Kelurahan Tanjung Senang. Metode yang digunakan yaitu terapi aktivitas kelompok (TAK) berupa latihan fisik dan kognitif. Pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang paling banyak dialami lansia. Terdapat perubahan nilai risiko jatuh, tingkat kemandirian dan kemampuan kognitif lansia yang meningkat setelah TAK dilakukan. Kesimpulan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yaitu pembentukan kelompok mandiri lansia dengan hipertensi dapat membantu mengurangi masalah kesehatan yang dialami lansia melalui TAK. Harapannya kelompok mandiri lansia ini terus berlanjut dengan bantuan pihak Kelurahan dan Puskesmas. Kata Kunci: Lansia, Hipertensi, Terapi Aktivitas Kelompok (TAK).  ABSTRACT The number of elderly people worldwide is predicted to reach 1.4 billion by 2030 and increase to 2.1 billion by 2050. Elderly individuals experience various changes in physical, cognitive, and psychosocial aspects. One of the most common health problems experienced by the elderly is hypertension. Non-pharmacological therapies for elderly individuals with hypertension include lifestyle modifications (such as physical exercise), proper nutrition, and stress management. Physical exercise can be carried out through group activity therapy (GAT), which has been shown to be effective in lowering blood pressure. The purpose of this community service program is to establish an independent group for elderly individuals with hypertension through group activity therapy (GAT) in Tanjung Senang Village. The method used involves group activity therapy (GAT) in the form of physical and cognitive exercises. The results of this community service indicate that hypertension is the most common health problem among the elderly. Improvements were observed in fall risk, level of independence, and cognitive abilities after the implementation of GAT. In conclusion, the establishment of an independent group for elderly individuals with hypertension can help reduce health problems through group activity therapy (GAT). It is expected that this independent group will be sustained with support from the Village authorities and the Community Health Center. Keywords: Elderly, Hypertension, Group Activity Therapy (GAT).