p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ners
Wahyu Septiono
Universitas Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengelompokan Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur Berdasarkan Indikator Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Tahun 2023 Jihan Ramadhany Ginting Manik; Wahyu Septiono; Cinansa Muthia Dewani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55817

Abstract

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) memegang peran krusial dalam memantau dan mengevaluasi kemajuan pembangunan kesehatan suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan mengelompokkan kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan indikator IPKM tahun 2023 serta mengidentifikasi karakteristik tiap gugus. Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik kuantitatif dengan desain ekologi, memanfaatkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2023 di 21 kabupaten dan 1 kota di NTT. Penelitian ini menganalisis tujuh indikator IPKM, yaitu stunting, imunisasi lengkap, penggunaan alat kontrasepsi, persalinan oleh tenaga kesehatan, kebiasaan merokok, pneumonia, dan akses sanitasi. Pengelompokan wilayah dilakukan menggunakan metode K-Means, yaitu teknik pengelompokan non-hierarkis yang mengidentifikasi kelompok kabupaten/kota dengan karakteristik kesehatan masyarakat yang serupa berdasarkan jarak euclidean antar objek. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga gugus, yaitu kategori sedang sebanyak 16 kabupaten (72,7%) dengan capaian moderat pada sebagian besar indikator, kategori rendah hanya Sumba Barat Daya (4,5%) dengan permasalahan dominan pada stunting, pneumonia, dan unmet need kontrasepsi, serta kategori tinggi yang mencakup lima wilayah (22,7%) dengan capaian baik terutama pada imunisasi lengkap dan penggunaan kontrasepsi. Hasil pengelompokan ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun prioritas intervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
Identifikasi Wilayah Berisiko ISPA Pada Balita di Pulau Jawa: Pendekatan Analisis Spasial dan Perbandingan Karakteristik Antar Klaster Raras Anasi; Wahyu Septiono
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56198

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas balita di Indonesia, dengan prevalensi di Pulau Jawa masih melebihi rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola persebaran ISPA pada balita di Pulau Jawa, mengidentifikasi wilayah dengan risiko tinggi, serta membandingkan karakteristik sosial-demografis dan lingkungan antara wilayah berisiko tinggi dengan wilayah lainnya. Analisis dilakukan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 pada 119 kabupaten/kota di 6 provinsi di Pulau Jawa. Hasil analisis menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif pada prevalensi ISPA (Moran’s I=0,321; p=0,001), yang menandakan terjadinya pengelompokan spasial kasus ISPA pada balita. Sebanyak sepuluh wilayah teridentifikasi sebagai klaster risiko tinggi (high-high). Ditemukan perbedaan karakteristik balita dengan ISPA, meliputi status stunting, kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), jenis sanitasi, klasifikasi wilayah, dan status ekonomi antara wilayah klaster risiko tinggi (high-high) dan wilayah non high-high. Temuan ini menegaskan kebutuhan akan intervensi yang lebih terarah di wilayah prioritas melalui penguatan deteksi dini ISPA, perbaikan sanitasi dan gizi balita, serta optimalisasi pemanfaatan JKN. Selain itu, penguatan layanan primer di klaster berisiko tinggi melalui perluasan kunjungan rumah tangga, peningkatan akses JKN, serta penerapan pendekatan berbasis wilayah dan pemantauan spasial berkelanjutan menjadi kunci perumusan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih efektif. Kata Kunci: Autokorelasi, Balita, ISPA, Jawa, Spasial.