Penyakit kronis memberikan dampak multidimensi bagi pasien, mencakup gejala fisik yang menetap, tekanan psikologis, dan keterbatasan sosial yang mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Dalam konteks komunitas, sebagian besar pasien dirawat di rumah dengan dukungan layanan kesehatan yang terbatas. Kader kesehatan—terutama para ibu kader—memegang peran penting sebagai garda terdepan dalam pemantauan kesehatan dan pemberian dukungan awal kepada pasien kronis. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kader melalui intervensi terpadu berbasis keperawatan paliatif, psikologi, dan komunikasi empatik menjadi strategi potensial untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kronis di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas program intervensi tersebut dalam meningkatkan kualitas hidup pasien melalui pemberdayaan kader kesehatan sebagai agen utama pendampingan. Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pre-test dan post-test control group. Responden penelitian adalah ibu kader kesehatan yang memenuhi kriteria inklusi serta terlibat aktif dalam pelayanan komunitas. Kader pada kelompok intervensi diberikan pelatihan dan pendampingan mengenai keperawatan paliatif komunitas (manajemen gejala, edukasi kesehatan, dukungan perawatan mandiri), pendekatan psikologis dasar (konseling sederhana dan strategi pendampingan emosional), serta keterampilan komunikasi empatik untuk meningkatkan kualitas hubungan kader–pasien–keluarga. Kader kemudian menerapkan keterampilan tersebut dalam pendampingan pasien kronis di wilayah kerjanya. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi WHOQOL-BREF untuk mengukur kualitas hidup pasien dampingan, Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) untuk status psikologis, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk dukungan sosial, dan ESAS-r untuk menilai gejala fisik. Analisis data menggunakan paired t-test, independent t-test, serta ANOVA/MANCOVA untuk kontrol kovariat. Penelitian ini menghasilkan bukti empiris bahwa penguatan kapasitas kader kesehatan melalui intervensi keperawatan paliatif, psikologi, dan komunikasi empatik efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kronis. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan model layanan paliatif komunitas yang dapat diimplementasikan di puskesmas maupun lingkungan masyarakat