Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INOVASI TOILETPRENEURSHIP UNTUK MEWUJUDKAN AKSES SANITASI LAYAK DAN BERKELANJUTAN Galio Rudulfo Dian Burdames; Ristina Rosauli Harianja; Roswati Roswati; Ummu Khaerat Rahmawan; Ayu Sunarti S.; Citra Kumala Dewi; Eka Puspita Sari; Genoveva Chatleen C. Mollet; Suci Fajriani S; Nurul Fitri Ayu; Antonius S. W. Dosinaeng; Herdiani Siallagan
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 6 (2025): Vol. 6 No. 6 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i6.52302

Abstract

Akses terhadap air dan sanitasi merupakan hak asasi manusia yang mendasar. Di Papua, kondisi sanitasi masih menunjukkan ketimpangan yang jauh lebih besar dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 5,02% rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi aman. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan membangun sinergi dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai bahaya perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Upaya ini dilakukan melalui pendekatan partisipatif dalam program Toiletpreneurship, yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan partisipatif, karena program ini menekankan keterlibatan langsung pemuda dan masyarakat dalam setiap proses pemberdayaan. Kegiatan dilaksanakan di Distrik Sentani pada Januari–Maret 2025 dengan melibatkan 30 peserta, terdiri dari pemuda lokal, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan lingkungan. Hasil kegiatan mencakup pemetaan komunitas dan kondisi sanitasi yang digunakan sebagai alat advokasi kepada pemangku kepentingan lokal serta dasar ilmiah dalam perancangan toilet tahan iklim. Peningkatan keterampilan peserta menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung efektif dalam membangun kapasitas teknis pemuda. Inovasi toilet yang dihasilkan juga berdampak sosial signifikan dengan meningkatnya akses sanitasi rumah tangga dan menurunnya praktik BABS. Monitoring dan evaluasi menegaskan bahwa integrasi pemicuan, pelatihan teknis, dan teknologi sanitasi tahan iklim membawa perubahan positif yang berkelanjutan.
THE RELATIONSHIP BETWEEN PHYSICAL ACTIVITY AND NUTRITIONAL STATUS AND QUALITY OF LIFE AMONG ADOLESCENTS IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY Citra Kumala Dewi
International Journal of Social Science Vol. 5 No. 3 (2025): October 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adolescents’ quality of life is an important indicator of overall health status, encompassing physical, psychological, social, and environmental dimensions. Physical activity and nutritional status are commonly associated with adolescent health; however, their relationship with quality of life remains inconsistent across studies. This study aimed to analyze the relationship between physical activity and nutritional status and adolescents’ quality of life in Bolaang Mongondow Regency. This study employed an observational analytic design with a cross-sectional approach, conducted among junior and senior high school adolescents in Bolaang Mongondow Regency in October 2023. A total of 406 adolescents were selected using cluster random sampling. Physical activity was assessed using the Global School-based Health Survey (GSHS) questionnaire, nutritional status was determined using Body Mass Index-for-Age (BMI-for-age), and quality of life was measured using the WHOQOL-BREF instrument. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-square test at a 95% confidence level. The results showed that there was no significant relationship between physical activity and adolescents’ quality of life across all quality of life domains (p > 0.05). Similarly, nutritional status was not significantly associated with adolescents’ quality of life (p > 0.05). These findings indicate that variations in physical activity levels and nutritional status do not necessarily influence adolescents’ perceived quality of life. In conclusion, physical activity and nutritional status are not significantly associated with adolescents’ quality of lifein Bolaang Mongondow Regency. Adolescents’ quality of life may be more strongly influenced by psychosocial and environmental factors that were not examined in this study. Future research is recommended to incorporate these factors to obtain a more comprehensive understanding of adolescents’ quality of life.