Penyebaran informasi tentang bencana alam Sumatra di media sosial tidak hanya memuat konten akurat, tetapi juga menjadi media persebaran hoaks, termasuk konten rekayasa kecerdasan buatan (AI). TikTok kini menjadi platform digital paling berpengaruh bagi mahasiswa Indonesia, sekaligus arena yang rentan terhadap manipulasi informasi berbasis algoritma. Kasus viral video harimau saat banjir Sumatra pada Desember 2025, yang terbukti sebagai rekayasa AI, menjadi konteks empiris sekaligus titik berangkat penelitian ini dalam mengkaji fenomena misinformasi digital yang kian kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana literasi digital mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terbentuk melalui praktik sosial mereka di TikTok. Metode yang digunakan adalah kualitatif studi kasus melalui wawancara mendalam dan observasi digital terhadap tiga mahasiswa aktif pengguna TikTok yang dipilih secara purposif berdasarkan intensitas penggunaan dan keterlibatan mereka dengan konten bencana. Analisis dilakukan dengan pendekatan Social Practice Theory (SPT) menggunakan tiga elemen utama: material (algoritma dan teknologi AI), kompetensi (keterampilan verifikasi informasi), dan makna (nilai etis dan emosional dalam konsumsi konten). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) algoritma TikTok menjadi penentu utama paparan informasi dan pembentuk persepsi kebenaran di kalangan pengguna muda; (2) kemampuan literasi digital mahasiswa terbagi dalam tiga tingkatan—pasif, adaptif, dan reflektif—yang mencerminkan perbedaan kesadaran kritis terhadap konten AI; (3) dimensi etis dan empatik merupakan bagian integral dari praktik literasi digital di era kecerdasan buatan. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan kerangka literasi digital berbasis praktik yang responsif terhadap ekosistem algoritmik dan tantangan misinformasi berbasis AI.