Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Tradition Of Ngaji Jama' (A Study Of Living Qur'an In The Dompu Community, West Nusa Tenggara) Nurul Aulia
CONTEMPLATE: Jurnal Ilmiah Studi Keislaman Vol 5 No 01 (2024): Juni 2024
Publisher : LP3M Universitas Al-Qur'an Ittifaqiah Indralaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/contemplate.v5i01.370

Abstract

This Living Qur'an research discusses the tradition (Ngaji Jama') of reading the Qur'an using the rhythm of tartil and tilawah. Ngaji Jama' is a religious ritual performed by the people of Bima and Dompu, West Nusa Tenggara. It is held at night (Ba'da Isha). The series of events of the Ngaji Jama' tradition are: Wedding, circumcision and Tahlilan by chanting the Qur'an using rhythm together or taking turns. This study aims to find out the process of Ngaji Jama' in the tradition of religious rituals carried out at Ngaji Jama' Wedding, Khitanan and Tahlilan events. Furthermore, to find out what impact Ngaji Jama' has on the social life of the people of Dompu, West Nusa Tenggara. The recitation of the Qur'an undergoes transmission and transformation, namely, the Recitation of the Qur'an in the Companions Era, the Recitation of the Qur'an in the Middle Era and the Recitation of the Qur'an in the Contemporary Era. In this study the author used descriptive, qualitative methods, then strengthened by primary data sources, secondary data and analyzed the data by collecting data through observation, interviews and documentation. This research was conducted by interviewing several religious leaders as well as reciters and Qariahs among the Dompu community. Based on the results of the research, it can be concluded that the people of Dompu understand the Qur'an not only as a holy book, but also as the embodiment of an ideal society that is always close to the Qur'an. This is what distinguishes the Ngaji Jama' tradition from other regions when there is a formal or non-formal event. Keywords: Kata Tradition, Ngaji Jama???, Living Qur'an
PENDIDIKAN KARAKTER MARYAM DALAM AL-QUR'AN PERSPEKTIF TAFSIR QUR'AN KARIM KARYA MAHMUD YUNUS Nurul Aulia; Maghfiratuzzahroh; M. Yusril
CONTEMPLATE: Jurnal Ilmiah Studi Keislaman Vol 6 No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : LP3M Universitas Al-Qur'an Ittifaqiah Indralaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/contemplate.v6i1.1351

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kisah Maryam, sebagaimana yang dipaparkan dalam Tafsir Qur???an Karim karya Mahmud Yunus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan (liberary research). Kemudian diperkuat oleh data primer merujuk pada (Tafsir Qur???an Karim). Sedangkan data sekunder berupa cakupan dari tafsir, serta literature pendidikan karakter yang masih relevan dengan tema penelitian. Selanjutnya untuk analisis data berupa metode analisis isi dan pendekatan tematik, guna untuk menelusuri konstruksi pendidikan karakter pada narasi kisah mArtam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mahmud Yunus dalam tafsirnya mengemukakan kisah Maryam melalui corak edukatif, yang menekankan pada nilai-nilai iman, kesucian, kesabaran, ketaatan, serta keikhlasan sebagai dasar utama dalam pendidikan pada karakter Islam. Dari kelima nilai tersebut menjadi kunci utama dalam membentuk kepribadian Muslim dan Muslimah yang berakhlakul karimah yang baik dan tangguh. Penelitian ini juga menegaskan bahwasannya Mahmud Yunus dalam Tafsir Qur???an Karim tidak hanya menekankan pada nilai teologis saja, namun berkontribusi juga dalam membangun pengajaran yang berintegritas. Dengan demikian, Penggambaran kisah Maryam memberikan inspirasi bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang tidak hanya memprioritaskan pada ilmu pengetahuan saja, namun juga pada pembinaan terhadap akhlak dan spiritualitas yang baik. Terlebih lagi pada konteks pendidikan modern, baik untuk umat Muslim maupun umat beragama.
Konseptualisasi Hak Asasi Manusia (HAM): Studi Atas Pandangan Musdah Mulia dalam Ensiklopedia Muslimah Reformis Ahmad Murtaza MZ; Aufa Miranti; Nurul Aulia; Cholillah; Nailil Husna
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i1.741

Abstract

Musdah Mulia menonjolkan peran teologis-humanis dan memperkaya pandangannya dengan kritik konstruktif yang bersifat reformis dalam merumuskan konsep hak asasi manusia. Dia mengusung kerangka berpikir yang menekankan integrasi antara akal dan agama dalam pemahaman hak asasi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mengevaluasi konsepsi Musdah Mulia tentang hak asasi manusia serta mengikuti proses penalaran yang digunakannya dalam merumuskan gagasan tersebut. Metode kualitatif, khususnya analisis konten, menjadi pendekatan yang digunakan dalam konteks penelitian hak asasi manusia. Pemikiran Musdah Mulia tentang tauhid memiliki potensi untuk membangkitkan kesadaran akan kesetaraan di kalangan masyarakat. Integrasi antara hak asasi manusia dan konsep tauhid diyakini memiliki daya persuasi yang besar terhadap umat beragama. Paradigma tauhid yang diajukan oleh Musdah Mulia dianggap mampu memperbaharui pemahaman tentang Islam, membuatnya lebih relevan dengan dinamika sosial modern dan menjadikannya lebih progresif. Dalam tulisannya mengenai hak asasi manusia, Musdah Mulia memadukan dua elemen utama dalam narasinya, yaitu rujukan keagamaan dan kritik terhadap sudut pandang yang ada. Dia menggunakan Al-Qur'an, Hadis, dan pandangan ulama untuk membangun fondasi argumentatif dari pandangan reformisnya. Pendekatan reformis yang dianut oleh Musdah Mulia menempatkan kritik terhadap gagasan yang dianggap sebagai kebenaran mutlak, namun tidak relevan dengan konteks masa kini, sebagai salah satu landasan utamanya. Dengan demikian, karya-karya Musdah Mulia memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembaharuan konsepsi tentang hak asasi manusia dalam konteks keislaman yang lebih luas.
Epistemologi Mimpi Nabi Yusuf Nurul Aulia
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.1265

Abstract

Mimpi merupakan pengalaman universal manusia yang memiliki dimensi psikologis dan spiritual. Dalam khazanah Islam, mimpi menempati posisi penting, terutama dalam kisah Nabi Yusuf. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis epistemologi mimpi Nabi Yusuf sebagai landasan pemahaman terhadap kebijaksanaan Ilahi. Metode yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), bersumber dari Al-Qur’an, tafsir, dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mimpi Nabi Yusuf tentang matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud bermakna bahwa ia akan menjadi orang yang paling terhormat. Mimpi tersebut memiliki aspek simbolisme, ketaatan dan kehormatan, wahyu dan petunjuk Ilahi, serta pesan moral dan hikmah. Adapun mimpi tentang kebun dan rumpun mencakup aspek identifikasi simbol, simbolisme pertanian dan kehidupan, keterkaitan dengan kisah Nabi Yusuf, analisis tafsir, pesan moral dan hikmah, hubungan dengan takdir dan kehendak Ilahi, serta kaitan dengan perannya di istana Mesir. Secara epistemologis, mimpi Nabi Yusuf bukan sekadar fenomena psikologis, melainkan wahyu simbolik yang berfungsi sebagai epistemologi kenabian, yakni cara Allah menyampaikan ilmu dan petunjuk kepada hamba pilihan-Nya. Dengan demikian, mimpi Nabi Yusuf menjadi landasan penting dalam memahami kebijaksanaan Ilahi dan memperluas horizon hermeneutika Al-Qur’an.
THE TRANSFORMATION OF QUR'AN INTERPRETATION AND THE DYNAMICS OF TEXT AUTHORITY IN INDONESIA A CRITICAL ANALYSIS Yuviandze Bafri Zulliandi; Intan Wulansari; Nurul Aulia
MIYAH: Jurnal Studi Islam Vol. 21 No. 01 (2025): JANUARI
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/miyah.v21i01.1270

Abstract

The study of Quranic exegesis (tafsir) in Indonesia has undergone a significant transformation, reflecting the dynamic interplay between textual authority and socio-cultural contexts. The transformation of tafsir in Indonesia is not merely a scholarly pursuit, but also a reflection of the broader socio-political and cultural landscapes that shape the interpretation of the sacred text. This transformation is evident in the various approaches to tafsir, ranging from traditional methods to modern contextual analyses, which reveal the underlying epistemological frameworks and ideological stances of the interpreters. This research employs a qualitative approach with critical analysis to explore the evolution of interpretative authority and the shifts in hermeneutical strategies within the Indonesian context. The study concludes that the dynamics of Quranic textual authority in Indonesia are the result of a complex interaction between tradition, innovation, and socio-political forces.
Parallelism of Bidadari in Tafsir Al-Azhar Intertextuality Analysis by Julia Kristeva Nurul Aulia; M. Riyan Hidayat
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 6 No. 2 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v6i2.2315

Abstract

This study was conducted to determine how Buya Hamka interpreted the meaning of Bidadari in Tafsir Al-Azhar using Julia Kristeva's analysis. The objectives of this study are as follows: 1) How the meaning of Bidadari is expressed in Julia Kristeva's thinking in Genoteks and Fenoteks in Buya Hamka's interpretation. (2) How the meaning of Bidadari is significant and significant in Buya Hamka's interpretation. To achieve a relevant meaning of Bidadari in this study, the researcher used a qualitative approach through library research. The primary data refers to Tafsir Al-Azhar, while the secondary data consists of the scope of the interpretation and literature that is still relevant to the research theme, such as journal articles, theses, and books. Data analysis was conducted using content analysis and a thematic approach. The results of this study revealed various meanings of bidadari from both exegetes and figures. Hamka narrated the meaning of bidadari as a young and beautiful woman who came from the angelic race. Meanwhile, Ibn Abbas's interpretation described the meaning of bidadari as a well-preserved ostrich.