Dadi Hidayat Maskar
Program Studi Gizi Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan – Universitas Sahid Jakarta Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Association of Food Consumption Patterns and Physical Activity Towards the Nutritional Status Of Students at Nuraida Islamic Boarding School In Bogor Rahma Varizka Ramadhani; Khoirul Anwar; Dadi Hidayat Maskar
Journal of Global Nutrition Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53823/jgn.v6i1.187

Abstract

Adolescence is a period of rapid growth and development that requires optimal nutritional needs and physical activity. Adolescent girls are more susceptible to nutritional problems due to increased nutrient needs and a tendency to restrict food consumption, especially in boarding school environments with structured living systems. This study aims to determine the relationship between food consumption patterns and physical activity with the nutritional status of female students at Nuraida Islamic Boarding School, Bogor City. This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study subjects were 73 high school female students selected using a purposive sampling technique. Data on food consumption patterns were collected through food weighing and food records for 2x24 hours, while physical activity was measured using the Physical Activity Questionnaire for Adolescents (PAQ-A). Data processing involved editing, coding, data entry, and data cleaning. Relationship analysis was performed using the Spearman Rank test. The results showed that the majority of female students had good nutritional status (67.1%). Food consumption patterns based on type and frequency were classified as adequate, as indicated by consumption of more than four food groups on the first day (65.8%) and the second day (79.5%), as well as sufficient meal frequency on the first day (28.4%) and the second day (73.0%). However, the adequacy of energy and macro and micronutrients was still largely below the required levels. Physical activity was mostly classified as light (86.3%). There was no significant relationship between meal type and frequency with nutritional status, while physical activity did not show a significant relationship with nutritional status.
EDUKASI ANALISIS BAHAYA DAN TITIK PENGENDALIAN KRITIS (HACCP) BAGI PENGRAJIN TEMPEH DI SENTUL, BOGOR: EDUKASI ANALISIS BAHAYA DAN TITIK PENGENDALIAN KRITIS (HACCP) BAGI PENGRAJIN TEMPEH DI SENTUL, BOGOR Khoirul Anwar; Dadi Hidayat Maskar; Revanza Eliza Angelia; Laras Anastasia Hidayat; Fandra Raditya Naufal; Intan Kusumawati
MADANI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 10 No 2 (2024): MADANI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM UPN Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53834/mdn.v10i2.10383

Abstract

Tempe merupakan salah satu makanan populer di Indonesia yang merupakan sumber protein nabati dan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah kebersihan dan titik kritis kontaminasi yang terjadi pada setiap tahapan proses produksi. Peningkatan kondisi higiene dan sanitasi menjadi hal penting yang harus dilakukan untuk menjadikan suatu produk dengan kualitas yang lebih baik. Kegiatan edukasi dilaksanakan di ruang mitra yang merupakan bagian dari masjid Jabal Nur Sentul City, Kabupaten Bogor. Lokasi kegiatan juga dilaksanakan di lokasi produksi tempe yang masih dalam komplek Radja Tempe yang sama. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei - Juni 2024 dengan target kegiatan yaitu pengurus Radja Tempe, Pengrajin, dan masyarakat sebanyak 24 orang peserta. Berdasarkan hasil evaluasi pengetahuan yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Terjadi peningkatan rerata pengetahuan peserta yang pada saat pre-test memiliki skor pengetahuan 82,5 ± 11,9 meningkat pada saat post-test dengan skor pengetahuan 88,3 ± 9,6. Hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan peserta meningkat setelah dilakukan edukasi yang diharapkan pengetahuan peserta tentang keamanan pangan dan HACCP juga akan meningkat. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan edukasi (p<0,05). Perbedaan yang signifikan ini menunjukkan bahwa skor pengetahuan peserta sesudah kegiatan edukasi lebih tinggi dibandingkan dengan skor pengetahuan peserta sebelum kegiatan edukasi. Kegiatan edukasi dengan metode partisipatif dapat dilakukan untuk memberikan edukasi tentang HACCP kepada mitra pengrajin. Kegiatan edukasi ini memberikan manfaat kepada mitra yaitu melalui peningkatan pengetahuan tentang keamanan pangan dan HACCP.