Malim Soleh Rambe
Bimbingan dan Konseling Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perlindungan Privasi Konseling dan Etika Profesi dalam Pengelolaan Ruang Bimbingan dan Konseling Malim Soleh Rambe; Amelia Rizki; Asmaryadi; Azijah Tussolihah Siregar
Pustaka Edukasi: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 1 No 3 (2026): Pustaka Edukasi
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/pe.v1i3.186

Abstract

Pendahuluan: Prinsip kerahasiaan dan etika profesi merupakan aspek penting dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, terutama dalam pengelolaan ruang bimbingan dan konseling (BK) di era digital. Perkembangan teknologi dan penggunaan media digital dalam layanan konseling menghadirkan tantangan baru terkait perlindungan data pribadi, keamanan informasi, dan profesionalitas layanan konseling di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip kerahasiaan dan etika profesi dalam pengelolaan ruang BK di era digital serta mengkaji tantangan yang dihadapi guru BK dalam menjaga privasi dan keamanan layanan konseling. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis berbagai jurnal ilmiah, buku akademik, dan regulasi terkait layanan bimbingan dan konseling pada periode 2019–2025. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk memahami hubungan antara pengelolaan ruang BK, etika profesi, dan perlindungan kerahasiaan siswa. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ruang BK di era digital tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan fisik ruangan, tetapi juga mencakup keamanan data konseling, penggunaan media digital secara etis, serta perlindungan privasi peserta didik. Pembahasan: Guru BK dituntut memiliki kompetensi profesional dalam menjaga kerahasiaan informasi siswa baik dalam layanan tatap muka maupun layanan berbasis digital. Selain itu, dukungan sarana, kebijakan sekolah, dan pemahaman etika profesi menjadi faktor penting dalam menciptakan layanan BK yang aman, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan peserta didik. Simpulan: Prinsip kerahasiaan dan etika profesi dalam pengelolaan ruang BK di era digital menjadi landasan penting dalam menciptakan layanan konseling yang aman, profesional, dan mampu melindungi privasi peserta didik. Kata kunci: kerahasiaan, etika profesi, ruang BK, layanan konseling, era digital.
Pengaruh Intensitas Penggunaan Gawai terhadap Konsentrasi Belajar Siswa Malim Soleh Rambe; Fediansyah Siregar; Sukatno; Azijah Tussolihah Siregar
Pustaka Edukasi: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 1 No 3 (2026): Pustaka Edukasi
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/pe.v1i3.188

Abstract

Pendahuluan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intensitas penggunaan gadget terhadap konsentrasi belajar siswa, dengan mempertimbangkan dimensi kognitif, perilaku, dan implikasi kebijakan pendidikan. Meningkatnya aksesibilitas perangkat digital di kalangan pelajar menciptakan dinamika baru dalam proses pembelajaran yang perlu dikaji secara kritis. Metode: Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis (systematic literature review) dengan menganalisis 15 sumber ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2024. Artikel-artikel tersebut diperoleh dari berbagai basis data akademik, termasuk Google Scholar, Scopus, dan ERIC. Hasil Penelitian: Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan terutama di atas empat jam per hari berkorelasi signifikan dengan penurunan kemampuan fokus perhatian, melemahnya daya ingat kerja, serta degradasi kebiasaan belajar yang produktif. Di sisi lain, penggunaan gadget yang terstruktur dan terbatas justru dapat mendukung proses pembelajaran apabila diintegrasikan dengan strategi pedagogis yang tepat. Pembahasan: Penelitian ini juga menemukan bahwa regulasi kebijakan penggunaan gadget di sekolah di Indonesia masih belum konsisten dan perlu diperkuat dengan pendekatan berbasis bukti. Temuan ini menegaskan urgensi intervensi terpadu dari pihak sekolah, keluarga, dan pembuat kebijakan dalam mengelola penggunaan gadget pada peserta didik. Implikasi praktis berupa rekomendasi kebijakan dan strategi pembelajaran berbasis bukti turut dibahas dalam artikel ini. Simpulan: Penggunaan gadget yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap konsentrasi belajar siswa, namun penggunaan yang terstruktur dan terintegrasi dengan strategi pedagogis yang tepat dapat mendukung proses pembelajaran. Kata Kunci: gadget, konsentrasi belajar, kognitif siswa, teknologi pendidikan, kebijakan sekolah
Evaluasi Kualitas Laboratorium/Ruang Bimbingan dan Konseling di Sekolah: Penyusunan Instrumen, Analisis Hasil Evaluasi, dan Rekomendasi Perbaikan Malim Soleh Rambe; Suci Ramadani; Normita Ika Saputri; Azijah Tussolihah Siregar
Pustaka Edukasi: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 1 No 3 (2026): Pustaka Edukasi
Publisher : PT Bukuloka Literasi Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65307/pe.v1i3.189

Abstract

Pendahuluan: Ruang Bimbingan dan Konseling (BK) merupakan bagian penting dalam mendukung layanan perkembangan peserta didik di sekolah. Kualitas ruang BK tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan fasilitas fisik, tetapi juga berkaitan dengan kenyamanan, privasi, aksesibilitas, dukungan teknologi, dan efektivitas penggunaannya dalam proses layanan konseling. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji evaluasi kualitas laboratorium atau ruang BK melalui penyusunan instrumen evaluasi, analisis hasil evaluasi, serta penyusunan rekomendasi perbaikan berbasis kebutuhan sekolah. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan dukungan analisis kuantitatif sederhana melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran instrumen evaluasi kepada guru BK, kepala sekolah, dan peserta didik. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ruang BK di sekolah masih menghadapi kendala pada aspek privasi layanan, keterbatasan sarana digital, tata ruang yang kurang mendukung kenyamanan psikologis, serta minimnya standar evaluasi berkala. Instrumen evaluasi yang disusun dalam penelitian ini mencakup indikator fisik, psikologis, administratif, teknologi, dan efektivitas layanan. Analisis menunjukkan bahwa kualitas ruang BK memiliki hubungan signifikan terhadap kenyamanan siswa dalam mengakses layanan konseling. Pembahasan: Penelitian ini juga menegaskan bahwa evaluasi ruang BK perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan agar layanan BK dapat berjalan optimal. Rekomendasi penelitian mencakup penguatan standar nasional ruang BK, pengembangan sistem Simpulan: evaluasi berbasis digital, peningkatan kompetensi pengelola ruang BK, dan optimalisasi dukungan kebijakan sekolah. Kata kunci: evaluasi kualitas, ruang BK, laboratorium BK, instrumen evaluasi, layanan konseling