Kamaluddin Abunawas
Universitas Islam Negeri Alauddin Makssar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakteristik Bahasa Arab Pra-Islam: Analisis Masa Jahiliyyah Ummu Fadhilah Imran Ibrahim; Andi Abdul Hamzah; Kamaluddin Abunawas
Al-Maraji' : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 9 No. 2 (2025): Al-Maraji': Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/211hmz35

Abstract

This research investigates the significance of the Arabic language during the Jahiliyyah era in the formation of the social and cultural identity of the Arab community prior to the rise of Islam. The study centers on how language, especially through poetry, served as an instrument for asserting identity, power, and moral values. Utilizing a qualitative descriptive approach with content analysis, the research focuses on the works of renowned poets like Imru’ al-Qais and Antarah ibn Shaddad. Data collection was conducted through a comprehensive review of literature, analyzing diwan and other pertinent texts, while examining the interplay between language, social values, and the poets' influence within the political and social milieu of the time. The results demonstrate that in the Jahiliyyah period, language was not merely a communicative tool, but also a means to reinforce tribal identity and safeguard social honor. This study offers valuable insights into the role of language within social and political frameworks and can aid in the development of educational curricula for Arabic language and literature, particularly with regard to cultural and historical literacy. Furthermore, the research paves the way for further studies on the relationship between language and social transformation, particularly in the transition from the Jahiliyyah period to the Islamic period. Keywords: Jahiliyyah Arabic; Social and Cultural Identity; Poetry and Moral Expression Penelitian ini membahas peran bahasa Arab pada masa Jahiliyyah dalam membentuk identitas sosial dan budaya masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam. Penekanan utama terletak pada bagaimana bahasa, khususnya dalam bentuk puisi, digunakan sebagai sarana untuk membangun identitas, kekuasaan, dan ekspresi moral. Metode yang diterapkan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan content analysis, yang memfokuskan pada karya-karya penyair terkenal seperti Imru’ al-Qais dan Antarah ibn Shaddad. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan menganalisis diwan serta literatur yang relevan, sambil menggali keterkaitan antara bahasa, nilai-nilai sosial, dan peran penyair dalam konteks politik dan sosial pada masa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa Jahiliyyah, bahasa bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga berfungsi untuk memperkuat identitas suku dan menjaga kehormatan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran bahasa dalam struktur sosial dan politik, serta dapat digunakan untuk1 mengembangkan kurikulum pendidikan bahasa Arab dan sastra, dengan fokus pada aspek budaya dan literasi sejarah. Selain itu, penelitian ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara bahasa dan perubahan sosial, khususnya pada periode transisi dari Jahiliyyah ke Islam. Kata Kunci: Bahasa Arab Jahiliyyah; Identitas Sosial dan Budaya; Puisi dan Ekspresi Moral
BAHASA DAN SASTRA ARAB MASA BANI ABBASIYAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP BAHASA DAN SASTRA ARAB KONTEMPORER Lenni Suriyanti; Andi Abdul Hamzah; Kamaluddin Abunawas; Amiruddin
Al-Maraji' : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 9 No. 2 (2025): Al-Maraji': Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/81yn9r29

Abstract

This research discusses the existence of the Arabic language during the Abbasid Era, known as the golden period of development of Arabic language and literature, marked by unprecedented intellectual, institutional and cultural progress. This research aims to analyze the dynamics of the development of Arabic language and literature in the Abbasid era by highlighting the factors that encouraged this progress—such as large-scale translations, cultural interactions across civilizations, scientific patronage, and the maturation of literary criticism—and examining their implications for the development of contemporary Arabic language and literature. This study shows that the Abbasid period formed a solid foundation for linguistic traditions through the codification of grammar, enrichment of vocabulary, and the influence of rationalist thought which encouraged literary creativity. In contemporary times, this legacy is reflected in the renewal (tajdīd) of modern Arabic literature, the formation of new critical theories, and the revitalization of the Arabic language through standardization movements and the development of terms. The results of this study confirm that the historical continuity between the Abbasid period and the modern era plays an important role in maintaining the relevance of Arabic language and literature as a medium for intellectual expression, aesthetics and cultural identity in the current global context. Penelitian ini membahas eksistensi bahasa Arab pada Masa Bani Abbasiyah dikenal sebagai periode keemasan perkembangan bahasa dan sastra Arab, ditandai oleh kemajuan intelektual, institusional, dan kultural yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perkembangan bahasa dan sastra Arab pada era Abbasiyah dengan menyoroti faktor-faktor yang mendorong kemajuan tersebut—seperti penerjemahan besar-besaran, interaksi budaya lintas peradaban, patronase ilmiah, dan pematangan kritik sastra—serta menelaah implikasinya terhadap perkembangan bahasa dan sastra Arab kontemporer. Studi ini menunjukkan bahwa periode Abbasiyah membentuk fondasi kokoh bagi tradisi kebahasaan melalui kodifikasi gramatika, pengayaan kosakata, serta pengaruh pemikiran rasionalis yang mendorong kreativitas sastra. Di masa kontemporer, warisan tersebut tercermin dalam pembaruan (tajdīd) sastra Arab modern, pembentukan teori kritik baru, serta revitalisasi bahasa Arab melalui gerakan standardisasi dan pengembangan istilah. Hasil kajian ini menegaskan bahwa kesinambungan historis antara periode Abbasiyah dan era modern berperan penting dalam mempertahankan relevansi bahasa dan sastra Arab sebagai medium ekspresi intelektual, estetika, dan identitas budaya dalam konteks global saat ini.