Rendahnya minat belajar siswa dalam pembelajaran Matematika masih menjadi persoalan penting di sekolah menengah pertama, terutama karena pembelajaran sering kali belum dikelola secara sistematis, berbasis data, dan berkelanjutan. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan manajemen mutu pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan pembelajaran di kelas, tetapi juga mencakup perencanaan, evaluasi, dan tindak lanjut perbaikan secara terpadu. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi manajemen mutu pembelajaran Matematika melalui siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMPN 1 Ciparay Kabupaten Bandung dan SMPN 2 Cimanggung Kabupaten Sumedang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi manajemen mutu pembelajaran Matematika di kedua sekolah memiliki karakteristik yang berbeda. SMPN 1 Ciparay menunjukkan implementasi yang lebih sistematis, berbasis data, interaktif, serta didukung evaluasi komprehensif dan tindak lanjut kolaboratif melalui MGMP dan komunitas belajar. Sebaliknya, SMPN 2 Cimanggung memperlihatkan implementasi yang lebih kontekstual-adaptif, tetapi belum sepenuhnya berbasis data, dengan evaluasi yang relatif sederhana dan tindak lanjut yang masih bersifat individual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas manajemen mutu pembelajaran Matematika dalam meningkatkan minat belajar siswa ditentukan oleh konsistensi integrasi setiap tahapan PDCA sebagai satu sistem yang utuh, berkelanjutan, dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Penelitian mendatang direkomendasikan untuk mengembangkan kajian dengan pendekatan kuantitatif atau mixed methods agar pengaruh implementasi PDCA terhadap minat belajar dan hasil belajar siswa dapat diukur secara lebih luas, objektif, dan komparatif pada berbagai konteks sekolah.