Vindriasih Mirdias Wiratiwi
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Preferensi Gen Z pada Interior Dalem Pangeran di Yogyakarta yang Mengalami Adaptive Reuse : Studi Kasus pada Dalem Pujokusuman dan Dalem Joyokusuman Martino Dwi Nugroho; Vindriasih Mirdias Wiratiwi; Zafirah Sitty Hartania Aurellia
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 14, No 1 (2026): March 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v14i1.17670

Abstract

Peneltian ini betujuan  untuk mengidentifikasi preferensi Gen Z  dan mengetahui apa yang menarik dalam desain interior Dalem Pangeran yang mengalami adaptive reuse bagi mereka, melihat bahwa coffee shop sudah menjadi fenomena gaya hidup modern bagi anak muda,. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik penelitian Participatory Action Research (PAR). Pengambilan data dpenelitian yang digunakan adalah menggunakan metode photovoice. Urgensi peneltian ini adalah dengan memahami preferensi ini diharapkan pada dalem pangeran dan desainer interior untuk dapat menciptakan ruang yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga fungsional dan sesuai dengan preferensi pengunjung Gen Z namun tidak meninggalkan aspek pelestarian budaya lokal. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat 5 (lima) tema ruang yaitu : (1) Ruang Hibrida dan Ambigu. Secara keseluruhan, konflik antara fungsi historis dan komersial menghasilkan ruang hibrida yang menarik secara visual dan kultural, namun sekaligus menciptakan ambiguitas fungsional dan etika yang memicu kritik dari Gen Z Ambiguitas Ruang muncul akibat dari adanya hibrida ruang.  (2) Ruang Beretika Sungkan, Gen Z dalam Ruang Beretika Sungkan adalah representasi dari generasi yang berjuang menemukan identitas mereka di persimpangan antara dorongan modern untuk berekspresi visual dan keharusan kultural untuk tunduk pada wibawa dan hierarki tradisional. Elemen eatetis tradisional Jawa berupa simbol – simbol ornamen dan ambience ruang dapat membentuk budaya sungkan pada Gen Z. (3) Ruang Keingin-tahuan (Curiosity). Mereka menggunakan detail arsitektur sebagai titik interaksi kritis untuk menggali interpretasi dan makna budaya.  (4) Ruang Budaya Konten. Hidup Konten Gen Z terpenuhi dari detail-detail elemen dekoratif tradisional Jawa dimana hal tersebut menjadi sesuai yang baru bagi mereka. (5) Ruang yang Tenang, bertransformasi dari sekadar lingkungan fisik menjadi ruang terapeutik yang secara aktif mendukung kesehatan mental dan emosional Gen Z, sekaligus menjadi jembatan emosional menuju warisan budaya yang menenangkan.