Putrasulung Baginda
Indonesia University of Education

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

German and Indonesian Politeness Strategies: A Contrastive Study and Its Pedagogical Implications for German Language Teaching Ending Khoerudin; Putrasulung Baginda; Dani Hendra
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Tiga (3) Negara: Indonesia, Taiwan dan Jor
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hpm61n44

Abstract

This study investigates politeness strategies represented in the German textbook Netzwerk A1 and contrasts them with documented Indonesian politeness norms to explore their pedagogical implications for German language teaching in Indonesia. Grounded in contemporary politeness theory and contrastive pragmatics, the research employs a qualitative descriptive design based on systematic document analysis. Dialogic interactions in the textbook were examined to identify patterns of directness, grammatical mitigation, hierarchical encoding, lexical politeness markers, and the use of Konjunktiv II. A micro-contrastive analysis of representative request forms further illustrates divergences between German structurally direct but grammatically mitigated formulations and Indonesian relationally oriented, lexically mediated politeness strategies. Interpreted through the distinction between pragmalinguistic and sociopragmatic dimensions, the findings reveal that differences extend beyond linguistic structure to culturally grounded evaluations of appropriateness and hierarchy. These divergences highlight potential areas of pragmatic transfer among Indonesian learners of German. This study contributes to the field of pragmatics by expanding contrastive analysis beyond English-centered paradigms and by providing a multi-layered account of politeness that integrates structural, lexical, and grammatical dimensions. The findings also offer pedagogical insights for developing intercultural pragmatic competence in German language teaching.
Analisis Semantik Bahasa Remaja dalam Film Tschick Karya Fatih Akin Luthfi Rizkia Pambudi; Putrasulung Baginda; Ending Khoerudin
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/hg1ysr06

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk bahasa remaja atau Jugendsprache dalam dialog film asal Jerman yang berjudul Tschick (2016) karya Fatih Akin, serta menganalisis perubahan serta pergeseran makna pada setiap tuturan Jugendsprache tersebut serentak mendeskripsikan fungsi semantik-pragmatis Jugendsprache dalam membangun karakter tokoh dan narasi film. Pendekatan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode simak dan teknik catat. Sumber data primer adalah dialog film Tschick (2016) karya Fatih Akin. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman (2014) dengan kerangka teori semantik leksikal Ullmann (1962), Lyons (1977), teori Jugendsprache Henne (1986) dan Androutsopoulos (1998, 2001), serta teori metafora konseptual Lakoff & Johnson (1980). Hasil dari penelitian ini menunjukkan 28 data bahasa remaja atau Jugendsprache yang ditemukan dalam dialog film ini, dan diklasifikasikan ke dalam 5 kategori sejajar berdasarkan jenis fenomena kebahasaan, yakni slang dengan 9 data, metafora konseptual dengan 7 data, hiperbol dengan 5 data, neologisme dan Anglisisme dengan 3 data, serta eufemisme, disfemisme, dan ironi diri dengan 4 data. Kategori slang merupakan kategori yang paling dominan dalam penelitian ini. Adapun mekanisme pergeseran makna seperti peyorasi, ameliorasi, perluasan, dan penyempitan makna bukan sub-kategori eksklusif slang, melainkan pola perubahan semantik yang ditemukan lintas kategori dalam data penelitian ini. Secara bidang semantik-pragmatis, Jugendsprache dalam film ini berfungsi sebagai simbol identitas suatu kelompok, ekspresi emosi, serta pembangunan tokoh remaja yang autentik. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian semantik leksikal media audiovisual Jerman serta untuk bahan ajar linguistik Jerman di Indonesia.
Analisis Durasi Realisasi Langvokale dan Kurzvokale Bahasa Jerman pada Mahasiswa Tingkat A2 Syakira Shafa Fairuza Hermawan; Putrasulung Baginda; Nur Muthmainah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 4 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/05zm3z98

Abstract

Pelafalan merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Jerman karena berperan dalam keterpahaman ujaran. Salah satu karakteristik fonologis bahasa Jerman adalah adanya kontras antara Langvokale (vokal panjang) dan Kurzvokale (vokal pendek), sedangkan panjang vokal tidak bersifat fonemik dalam bahasa Indonesia. Perbedaan tersebut dapat menjadi tantangan bagi pembelajar bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan durasi realisasi Langvokale dan Kurzvokale pada tuturan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman tingkat A2. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan analisis kuantitatif sederhana melalui pendekatan fonetik akustik. Subjek penelitian terdiri atas 28 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data diperoleh melalui pembacaan teks Hallo Wien! dari buku Netzwerk neu A2 dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Praat melalui segmentasi pada TextGrid serta pengukuran durasi setiap vokal. Sebanyak 24 kata target dianalisis, yang menghasilkan 672 data realisasi vokal, terdiri atas 336 data Langvokale dan 336 data Kurzvokale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata durasi Langvokale sebesar 174,47 ms, sedangkan rata-rata durasi Kurzvokale sebesar 159,61 ms. Secara deskriptif, Langvokale memiliki rata-rata durasi yang lebih tinggi daripada Kurzvokale, tetapi ditemukan variasi durasi pada setiap jenis vokal dan tumpang tindih rentang durasi antarkategori. Temuan ini memberikan gambaran empiris mengenai karakteristik durasi vokal pada pembelajar bahasa Jerman tingkat A2 berdasarkan pengukuran akustik.