Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perancangan Wellness Resort di Kawasan Gunungsewu, Gunungkidul dengan Pendekatan Controlled Sensory Environment sebagai Media Pemulihan Kesehatan Mental Aurelia Ghassani
Jurnal Poster Pirata Syandana Vol 7, No 01 (2026): PERIODE 162 (JUNI 2026)
Publisher : Architecture Department, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Wellness Resort di Kawasan Karst Gunungsewu, Gunungkidul  dilatarbelakangi oleh meningkatnya isu kesehatan mental akibat overstimulasi lingkungan  urban yang ditandai oleh kebisingan, kepadatan visual, serta tekanan aktivitas yang tinggi.  Fenomena ini mendorong kebutuhan akan lingkungan pemulihan (restorative environment)  yang mampu mengurangi beban kognitif dan mendukung kesejahteraan psikologis. Kawasan  Karst Gunungsewu sebagai UNESCO Global Geopark memiliki karakter lingkungan alami  yang tenang, rendah kebisingan, serta lanskap yang potensial sebagai media pemulihan  mental, namun belum dimanfaatkan secara optimal melalui pendekatan arsitektur terapeutik.  Tujuan perancangan ini adalah merumuskan konsep perencanaan dan perancangan  wellness resort berbasis pendekatan Controlled Sensory Environment (CSE) sebagai media  pemulihan kesehatan mental yang memanfaatkan potensi lingkungan alam serta  pengendalian stimulus ruang secara terukur. Pendekatan ini berfokus pada pengaturan  intensitas, kompleksitas, dan kualitas stimulus sensori seperti visual, akustik, pencahayaan,  serta sekuens ruang guna mendukung proses restorasi psikologis pengguna.  Metode yang digunakan meliputi metode deskriptif melalui studi literatur dan  analisis teori, metode dokumentatif melalui pengumpulan data tapak, serta metode  komparatif melalui studi preseden wellness resort dan arsitektur berbasis sensori. Hasil dari  proses tersebut berupa perumusan program ruang, pola sirkulasi, serta strategi perancangan  yang mengintegrasikan aspek fungsional, kontekstual, teknis, dan kinerja bangunan.  Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan Controlled Sensory  Environment dapat diwujudkan melalui pengendalian kepadatan visual, optimalisasi  pencahayaan alami tersaring, pengolahan akustik, serta penyusunan spatial sequencing dari  zona publik hingga zona privat yang bersifat restoratif. Dengan demikian, wellness resort  tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas rekreasi, tetapi sebagai lingkungan terapeutik yang  berperan aktif dalam mendukung pemulihan kesehatan mental secara holistik dan  berkelanjutan.  Kata Kunci : Wellness Resort, Controlled Sensory Environment, kesehatan mental, arsitektur  terapeutik