Arfiansyah Arfiansyah
Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Menjadi Santri, Menyukai K-Pop: Negosiasi Identitas Santri di Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar Miranda Miranda; Arfiansyah Arfiansyah; Suci Fajarni
Aceh Anthropological Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v10i1.26772

Abstract

This article examines how female students at Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar negotiate their identities when engaging with K-Pop culture. The study is based on the tension between pesantren as a religious educational institution that shapes students’ collective religious identity and K-Pop as a form of global popular culture accessed through family, peers, and digital media. Using a qualitative case study approach, data were collected through semi-structured interviews with female students who are K-Pop fans and female pesantren supervisors. The findings show that students’ interest in K-Pop is shaped by several factors, including family influence, peer interaction, visual appeal, music and choreography, inspirational idol narratives, and exposure to social media. However, students do not adopt K-Pop culture entirely. They negotiate their identities by selectively consuming K-Pop, limiting access and expression, prioritizing pesantren obligations, and avoiding elements considered inconsistent with Islamic values and pesantren rules. Pesantren regulations, including restrictions on personal items, clothing, language, and sudden inspections, function as a normative framework that shapes how students express or conceal their interest in K-Pop. This article argues that female students are not passive recipients of global popular culture, but active subjects who interpret, filter, and adjust their personal interests within the boundaries of religious identity and institutional discipline. Abstrak: Artikel ini mengkaji bagaimana santriwati di Pesantren Modern Al-Manar Aceh Besar menegosiasikan identitas mereka ketika berhadapan dengan budaya K-Pop. Kajian ini berangkat dari ketegangan antara pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang membentuk identitas religius kolektif santri dan K-Pop sebagai budaya populer global yang diakses melalui keluarga, teman sebaya, dan media digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan santriwati penggemar K-Pop dan ustazah pengasuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketertarikan santri terhadap K-Pop dipengaruhi oleh relasi keluarga, interaksi teman sebaya, daya tarik visual, musik dan koreografi, narasi perjuangan idola, serta paparan media sosial. Namun, santri tidak mengadopsi budaya K-Pop secara total. Mereka menegosiasikan identitas melalui konsumsi yang selektif, pembatasan akses dan ekspresi, penempatan kewajiban pesantren sebagai prioritas, serta penghindaran terhadap unsur-unsur yang dianggap tidak sejalan dengan nilai Islam dan aturan pesantren. Aturan pesantren, seperti pembatasan barang pribadi, pakaian, bahasa, dan razia mendadak, berfungsi sebagai kerangka normatif yang membentuk cara santri menampilkan atau menyembunyikan minat terhadap K-Pop. Artikel ini menegaskan bahwa santri bukan penerima pasif budaya populer global, melainkan subjek aktif yang menafsirkan, menyaring, dan menyesuaikan minat personal dalam batas identitas religius dan disiplin kelembagaan.