This Author published in this journals
All Journal JURNAL PANGAN
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LOGISTIK 4.0 Dalam Manajemen Rantai Pasok Beras Perum BULOG BANTACUT, TADJUDDIN
JURNAL PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.567 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i2.371

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk merumuskan gagasan Logistik 4.0 yang diaplikasikan pada manajemen rantai pasok beras, khususnya pada Perum BULOG yang mendapat mandat untuk dapat mengendalikan dan menjamin ketersediaan beras di Indonesia. Pengembangan Logistik 4.0 beras mencakup perencanaan sumberdaya, sistem manajemen gudang, sistem manajemen transportasi, sistem taransportasi cerdas, dan keamanan informasi. Berkaitan dengan hal ini, Perum BULOG perlu mengembangkan sistem pengelolaan yang telah ada mengikuti aspek tersebut dengan mengembangkan Sistem-Fisik-Cyber (Cyber-Physical-Systems) sebagai basis Logistik 4.0. Dalam perspektif ini, dua masalah terbesar yang dihadapi Perum BULOG saat ini adalah pengendalian persediaan beras di pasaran dan kinerja rantai pasok. Untuk itu perlu digunakan berbagai teknologi, agar kemampuan pengendalian dan rantai pasok beras Perum BULOG dapat memegang peranan yang strategis dengan memenuhi kualitas pangan (food quality), responsif (responsiveness), efisiensi (efficiency), dan fleksibelitas (flexibility). Diantara teknologi yang dapat digunakan adalah teknologi Radio Frequency Identification (RFID). Penggunaan teknologi seperti RFID, diharapkan dapat menjadikan Perum BULOG lebih menguasai pasar, dan mampu mengendalikan rantai pasok beras sebagai perwujudan tanggung jawabnya sebagai penyedia dan pengendali logistik beras.
Pengembangan Jagung untuk Ketahanan Pangan, Industri dan Ekonomi Corn Development for Food Security, Industry and Economy Bantacut, Tadjuddin; Redin Firdaus, Yasser; Tawaruddin Akbar, Muammar
JURNAL PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.834 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i2.29

Abstract

Jagung adalah komoditi strategis karena produktivitasnya tinggi dan kegunaannya beragam mulai dari pakan, pangan, energi dan bahan baku industri. Permintaan jagung dalam negeri sangat tinggi yang sebagian masih dipenuhi dengan impor. Kenaikan permintaan akan terus terjadi sejalan dengan pertambahan penduduk dan perbaikan kesejahteraan. Kenaikan konsumsi protein hewani terutama daging ayam dan telur menambah kebutuhan bahan baku industri pakan. Produktivitas jagung yang masih sangat rendah menjadi kendala peningkatan produksi, karena keterbatasan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sarana produksi lainnya. Potensi lahan dan kesesuaian iklim untuk penanaman jagung menjadi faktor penguat perluasan dan peningkatan produksi jagung. Nilai kalori dan nutrisi yang jauh lebih baik dibandingkan beras hendaknya dijadikan pemicu pengembangan jagung sebagai pangan pokok. Oleh karena itu, orientasi pertambahan produksi jagung seharusnya tidak dibatasi pada swasembada untuk memenuhi permintaan saat ini terutama bahan baku pakan, tetapi lebih untuk penguatan ekonomi, industri dan kemandirian pangan.Corn is a strategic commodity because of its high productivity and its usage diversity ranging from feed, food, energy to industrial raw materials. Domestic corn demand, which is partly fulfilled by import, is very high. This demand will continue to grow in line with population growth and well-being improvement. The increase of animal protein consumption, especially chicken meat and eggs, adds the demand on feed industry raw material. One of the main constraints to increase production is the low productivity due to insecure provision of hybrid seed, fertilizer and other agricultural inputs. Potential land availability andclimatic suitability for corn cultivation are among reinforcing factors to the corn cultivation expansion and production improvement as staple food alternative. Therefore, the goal to improve production should not be limited to self-sufficiency to meet current demand mainly feed raw materials, but more than that to strengthen domestic economic, food sovereignty and industry.