This Author published in this journals
All Journal JURNAL PANGAN
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PETANI DAN KEMISKINAN DI INDIA DAN NEGARA LAINNYA Soepanto, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.42 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i1.282

Abstract

India mengalokasikan dana Rp. 94 triliun setiap tahun atau 2 % dari produk domestik bruto (PDB) untuk menjamin pendapatan bagi 63 juta orang wakil keluarga miskin di desa. Setiap wakil dijamin pekerjaan dengan upah 60 rupees setiap hari selama 100 hah dalam setahun. Setiap bulan akan menerima 500 rupees atau Rp. 108.050. Dalam satu tahun berarti menerima 6.000 rupees atau Rp. 1.296.600. Jaminan ini mirip dengan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Indonesia yang merupakan program 1 tahun sedang Jaminan Kerja Pedesaan (JKP) di India merupakan program permanen dan ditetapkan dengan undang-undang. Pendapatan dari program JKP merupakan hasil jerih payah bekerja, sedang dari program BLT merupakan pendapatan yang diberikan secara cuma-cuma. Setiap keluarga miskin menerima BLT Rp. 100.000 setiap bulan atau Rp. 1.200.000 setiap tahun sehingga anggaran untuk 15,5 juta keluarga miskin adalah Rp. 18, 6 triliun. Program JKP India, hanya untuk masyarakat pedesaan, sehingga menimbulkan kritik dari masyarakat yang tidak tinggal di pedesaan. Sebagian besar warga India (72 %) tinggal di pedesaan sehingga yang paling merasakan program ini adalah para petani. Berbeda dengan program BLT Indonesia yang ditujukan untuk keluarga miskin baik yang bertempat tinggal di kota maupun di desa. Namun program-program seperti ini belum cukup untuk mengentaskan kemiskinan petani, masihdiperlukan bantuan pemerintah berupa perlindungan produk petani dipasar dalam negeri.
PRODUKSI KEDELAI DI DAERAH PRODUSEN DAN RANTAI PEMASARANNYA Soepanto, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.026 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.227

Abstract

Pemahaman rantai pasokan (supply chain) kedelai dari hulu sampai ke hilir merupakan prasyarat bagi pelaku pasar agar mampu menguasai perdagangan kedelai. Dengan pemahaman tersebut, pelaku akan lebih mampu bersaing di pasar lokal, antar pulau maupun perdagangan internasional. Beberapa faktor perlu dikenali yaitu : karakter pelaku perdagangan kedelai (petani, pedagang kecil/ besar); faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran seperti kualitas kedelai, harga jual, margin usaha, dan peran setiap kawasan sentra produksi dalam memasok pasar kedelai nasional. Sistem pemasaran kedelai berkembang karena dipengaruhi oleh perilaku pedagang besar, pedagang kecil maupun pengrajin. Kekuatan pelaku pasar tertentu sering menyulitkan berkembangnya sistem perdagangan yang adil dan merata. Rantai pasokan kedelai diidentifikasi untuk mengetahui peluang usaha bagi pelaku baru dan untuk membantu konsumen tertentu, industri kecil dan pengrajin yang dirugikan akibat lonjakan harga atas permainan oknum pelaku tertentu. Pelaku pasar yang bermoral akan senantiasa memberikan harga yang terjangkau dengan kualitas yang memenuhi persyaratan usaha industri. Pelaku baru akan berhasil apabila memahami supply chain komoditas kedelai di sentra produksi Jatim, Jateng, dan NTB yang merupakan penghasil utama kedelai lokal dan sekaligus pasar utama kedelai nasional. Tulisan pertama ini berupaya memotret rantai pasokan kedelai di Jatim untuk memberikan gambaran tentang praktek perdagangan kedelai yang terjadi di pasar. Daerah produsen tersebut disurvei untuk mengetahui sejauh mana mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dan perlunya tambahan kedelai dari daerah lain atau impor. Margin pemasaran juga disinggung untuk melihat besaran yang diterima oleh setiap pelaku dalam rantai pasokan komoditas kedelai sebagai acuan pengembangan usaha.