Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan Link and Match 4.0 dalam penguatan kemitraan antara SMKN 1 Kongbeng dan dunia industri serta merumuskan strategi konversi kemitraan tersebut menjadi pusat inovasi berbasis Teaching Factory. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi, dan studi literatur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang diintegrasikan dengan analisis SWOT, Matriks TOWS, dan GAP Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Link and Match 4.0 telah berjalan melalui sinkronisasi kurikulum dengan mitra industri, pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL), pelibatan dunia usaha dan dunia industri sebagai asesor eksternal dalam uji kompetensi, serta program guru tamu yang memperkuat budaya kerja dan keselamatan kerja. Kemitraan sekolah–industri telah menunjukkan karakteristik kemitraan substantif pada aspek kurikulum dan pembelajaran, namun masih memerlukan penguatan pada aspek produksi dan inovasi untuk mendukung pengembangan Teaching Factory yang terintegrasi. Analisis SWOT mengidentifikasi kekuatan utama pada keselarasan kurikulum dan pembelajaran berbasis kerja, sementara kelemahan utama terletak pada integrasi produksi internal dan tata kelola unit produksi. Berdasarkan analisis TOWS dan GAP, strategi pengembangan difokuskan pada integrasi pembelajaran dan produksi, penguatan tata kelola profesional, penerapan evaluasi berbasis CIPP, serta pengembangan kolaborasi triple helix antara sekolah, industri, dan pemerintah daerah. Strategi tersebut diharapkan dapat mendukung transformasi SMKN 1 Kongbeng menjadi pusat inovasi berbasis Teaching Factory yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kebutuhan industri.