Pemahaman teks keagamaan yang cenderung ekstrem memiliki risiko yang cukup besar terhadap praktik keberagamaan. Tidak sedikit tindakan persekusi terhadap sesama penganut agama atau berlainan agama dilakukan atas nama agama. Salah satu teks keagamaan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman adalah hadis riwayat Muslim tentang larangan memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani dan perintah mendesaknya di jalan. Penelitian kualitatif ini merujuk kepada sumber utama al-Kutub al-Tis’ah dan Kayfa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah Ma’alim wa Dhawabith karya Yusuf al-Qaradhawi. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kritik hadis dan metode pemahaman Yusuf al-Qaradhawi. Berdasarkan metode pemahaman hadis al-Qaradhawi dengan delapan langkahnya yang terdiri dari 1) memahami hadis sesuai petunjuk al-Qur’an, 2) menghimpun hadis-hadis yang setema, 3) tarjih terhadap hadis-hadis yang kontradiktif, 4) memahami hadis sesuai dengan latar belakang, situasi dan kondisi serta tujuannya, 5) membedakan antara sarana yang berubah-ubah dan tujuan yang tetap, 6) membedakan antara ungkapan haqiqah dan majaz, 7) membedakan antara yang gaib dan yang nyata, dan 8) memastikan makna kata-kata dalam hadis, penelitian ini berhasil membuahkan pemahaman bahwa hadis tersebut perlu dipahami dalam konteks konflik, sehingga dalam konteks normal tetap dianjurkan untuk berbuat baik terhadap Yahudi maupun Nasrani. Pemahaman ini dirasa cukup moderat dan kontektual yang secara langsung kontra terhadap narasi ekstremis yang cenderung tekstual dan memberikan potensi tindakan kekerasan atas nama agama.