Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH MICROBREAK STRETCHING BERBASIS VIDEO DAN AUDIT POSTUR KERJA TERHADAP KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH Ellysa Okky Gusma; Gian Lisuari Adityasiwi; Gatot Sunarto; Nathan Agwin Khenda; Hana Kristina
Jurnal Kesehatan Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v17i01.472

Abstract

Low back pain (LBP) remains a major musculoskeletal problem among informal sector workers, particularly shoe craftsmen who are exposed to prolonged static postures and repetitive tasks. Although previous studies have shown that stretching exercises and posture education can reduce LBP complaints, objective ergonomic assessments and sustainable intervention models are still limited. This study aimed to evaluate the effectiveness of a video-based microbreak stretching program combined with a workplace posture audit using the Rapid Entire Body Assessment (REBA) method in reducing low back pain and musculoskeletal disorder risks among shoe craftsmen in Mojokerto. This quasi-experimental study employed a pretest–posttest two-group design involving 70 participants selected through purposive sampling. The intervention group received video-guided microbreak stretching for four weeks accompanied by posture evaluation and correction, while the comparison group performed conventional workplace stretching. Outcome measures included pain intensity (Visual Analogue Scale), musculoskeletal complaints (Nordic Body Map), and ergonomic risk scores (REBA). Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test and Mann–Whitney U Test.The results demonstrated a significantly greater reduction in pain intensity, musculoskeletal complaints, and REBA scores in the intervention group compared with the comparison group (p < 0.001). In conclusion, video-based microbreak stretching combined with workplace posture audit is more effective than conventional stretching in reducing low back pain and ergonomic risks. These findings highlight the importance of integrating technology-supported micro-ergonomic interventions with objective posture evaluation for informal industry workers.   Abstrak: Nyeri punggung bawah (low back pain/LBP) merupakan salah satu masalah muskuloskeletal yang banyak dialami oleh pekerja sektor informal, khususnya pengrajin sepatu yang terpapar postur kerja statis dan aktivitas berulang dalam durasi panjang. Meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa latihan peregangan dan edukasi postur kerja dapat menurunkan keluhan LBP, penerapan pengukuran ergonomi objektif dan model intervensi yang berkelanjutan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas microbreak stretching berbasis video yang dikombinasikan dengan audit postur kerja menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) terhadap penurunan nyeri punggung bawah dan risiko gangguan muskuloskeletal pada pengrajin sepatu di Mojokerto. Penelitian quasi-eksperimental ini menggunakan rancangan pretest–posttest dengan kelompok pembanding dan melibatkan 70 responden yang dipilih secara purposive. Kelompok intervensi menerima microbreak stretching berbasis video selama empat minggu disertai evaluasi dan koreksi postur kerja, sedangkan kelompok pembanding menjalani stretching konvensional. Pengukuran dilakukan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS), Nordic Body Map (NBM), dan skor REBA. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan penurunan yang signifikan pada intensitas nyeri, keluhan muskuloskeletal, dan skor REBA pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok pembanding (p < 0,001). Disimpulkan bahwa microbreak stretching berbasis video yang dikombinasikan dengan audit postur kerja lebih efektif dibandingkan stretching konvensional dalam menurunkan LBP dan risiko ergonomi. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi mikro-ergonomi berbasis teknologi dan evaluasi postur objektif pada pekerja sektor informal.
Hubungan Riwayat Menarke Dini dengan Derajat Keparahan Skoliosis pada Remaja Putri Pengguna Brace Skoliosis di Klinik Ortotik Prostetik Mojokerto Ellysa Okky Gusma; Gatot Sunarto
Excellent Midwifery Journal Vol. 9 No. 1 (2026): Volume 9 No. 1, April Tahun 2026
Publisher : STIKes Mitra Husada Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55541/emj.v9i1.405

Abstract

Latar Belakang: Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) merupakan deformitas tulang belakang tiga dimensi yang sering ditemukan pada remaja, terutama perempuan, dan progresinya berkaitan erat dengan fase pertumbuhan pubertas. Riwayat menarke sebagai penanda maturasi pubertas diduga memiliki hubungan dengan derajat keparahan skoliosis, meskipun bukti yang tersedia masih belum konsisten. Pada pasien remaja putri pengguna brace, informasi mengenai usia menarke berpotensi menjadi salah satu indikator klinis tambahan dalam evaluasi penyakit. Tujuan: Menganalisis hubungan riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace di Klinik OP Mojokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah remaja putri pengguna brace skoliosis di Klinik OP Mojokerto tahun 2025. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Variabel independen adalah riwayat menarke dini, sedangkan variabel dependen adalah derajat keparahan skoliosis berdasarkan sudut Cobb. Variabel lain yang dianalisis meliputi usia, tipe skoliosis, dan lama penggunaan brace. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Sebanyak 60 responden dianalisis, dengan 41 pasien (68,3%) memiliki riwayat menarke dini. Derajat skoliosis terdiri atas ringan 18 pasien (30,0%), sedang 30 pasien (50,0%), dan berat 12 pasien (20,0%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis (p=0,014). Rerata sudut Cobb pada kelompok menarke dini lebih rendah dibandingkan kelompok tidak menarke dini. Kesimpulan: Riwayat menarke dini berhubungan dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace. Riwayat maturasi pubertas dapat dipertimbangkan sebagai informasi klinis tambahan dalam evaluasi pasien AIS yang menjalani terapi brace konservatif.
3D Printed Wrist Splint for Carpal Tunnel Syndrome in a Cigarette-Rolling Worker at RSUD Sumberglagah: A Case Study Gatot Sunarto; Ellysa Okky Gusma; dea Septianiputri; Rahmat Apriyanto; Riska Permatasari
Journal of Prosthetics Orthotics and Science Technology Vol. 5 No. 1 (2026): Journal of Prosthetics Orthotics and Science Technology (JPOST)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/jpost.v5i1.3118

Abstract

Background: Carpal tunnel syndrome (CTS) is a prevalent entrapment neuropathy among manual workers performing repetitive wrist loading and sustained precision grip. Cigarette-rolling workers face elevated risk due to prolonged wrist flexion and repetitive pinch activity. Despite the efficacy of wrist orthoses, conventional devices often provide suboptimal anatomical conformity and restrict occupational hand function. Three-dimensional printing enables patient-specific fabrication at low cost, yet clinical evidence in occupational rehabilitation remains limited. Aims: This study evaluated the fabrication workflow and clinical outcomes of a customized 3D-printed CTS wrist splint in a cigarette-rolling worker, focusing on efficiency, anatomical fit, cost, and functional performance. Methods: A single-case study design was employed consistent with established methodology for novel clinical workflow documentation, to evaluate practicability rather than population-level efficacy. The participant was a 38-year-old female with mild-to-moderate right-hand CTS. A CAD-designed PLA+ orthosis was fabricated via FDM 3D printing and hot-water thermoforming. Primary outcomes wrist posture, pain, fatigue, endurance, and comfort were assessed at baseline, post-fitting, Day 7, and Day 14 via structured observation and KPOP Plus telemonitoring. Results: Digital fabrication required 384 minutes and 60.31 g of PLA+ at a material cost of IDR 16,200. Wrist posture improved to near-neutral alignment, while pain, fatigue, and endurance improved without skin complications. Telemonitoring confirmed sustained symptom relief and device comfort through Day 14. Conclusion: Digitally fabricated 3D-printed wrist orthoses were feasible, clinically beneficial, and cost-effective for occupational CTS management. This case demonstrates an integrated workflow combining CAD design, FDM printing, thermoforming, and telemonitoring. Keywords: Carpal tunnel syndrome; Digital fabrication; 3D printing; Wrist orthosis; Occupational health
Brace Compliance, Cobb Angle, and Quality of Life in Adolescent Idiopathic Scoliosis Ellysa Okky Gusma; Gatot Sunarto; Gian Lisuari Adityasiwi; Hana Kristina
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 17, No 7 (2026): July 2026
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skoliosis idiopatik remaja (AIS) menghadirkan tantangan klinis yang signifikan, dengan penggunaan penyangga (brace) sebagai pengobatan non-bedah utama yang bertujuan untuk menghentikan perkembangan kurva. Namun, efektivitas penggunaan penyangga sangat bergantung pada kepatuhan pasien, namun bukti empiris yang mengintegrasikan koreksi biomekanik seperti perubahan tinggi badan dengan kepatuhan dan kualitas hidup masih langka. Studi ini menggunakan desain kuasi-eksperimental longitudinal, pengukuran berulang yang melibatkan 50 remaja perempuan dengan AIS (usia 13-18 tahun, sudut Cobb 20°-35°) di Klinik Ortotik dan Prostetik Mojokerto untuk menyelidiki hubungan antara kepatuhan penggunaan penyangga, perubahan tinggi badan, dan kualitas hidup (QoL) yang berhubungan dengan kesehatan. Partisipan menjalani terapi penyangga selama tiga bulan, dengan tinggi badan diukur pada awal, saat menggunakan penyangga, dan pada tindak lanjut tiga bulan. Kepatuhan penggunaan penyangga dinilai melalui kuesioner, dan QoL menggunakan Modul Skoliosis PedsQL. Hasil penelitian menunjukkan penurunan sudut Cobb rata-rata yang signifikan sebesar 2,6° (p < 0,001), dengan kelompok kepatuhan yang lebih tinggi menunjukkan penurunan yang lebih besar (p = 0,003). Meskipun tidak ditemukan korelasi signifikan antara tinggi badan dan waktu pemakaian penyangga (r = 0,11, p = 0,42), peserta dengan kepatuhan tinggi melaporkan skor kualitas hidup (QoL) yang secara signifikan lebih baik (85,4 ± 6,0) dibandingkan dengan kelompok kepatuhan sedang (79,3 ± 6,5) dan rendah (71,4 ± 8,1) (p < 0,001). Ketidaknyamanan umumnya ringan. Temuan ini menggarisbawahi bahwa meskipun penggunaan penyangga dapat mengoreksi deformitas tulang belakang dan meningkatkan QoL, kepatuhan pasien adalah faktor yang dapat dimodifikasi secara kritis. Dukungan perilaku, pendidikan, dan keluarga sangat penting untuk mengoptimalkan kepatuhan dan hasil pengobatan, menyoroti perlunya strategi yang berpusat pada pasien dalam manajemen AIS.