Fani Aqila
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sinergi Program Sejuta Catin dalam Edukasi Pencegahan Stunting: Studi Kasus Kolaborasi KUA dan Stakeholder di Kecamatan Medan Perjuangan Muhammad Azmi; Fadwa Nabila; Arya Pransetia; Muhammad Fadli; Putri Sani; Fani Aqila; Edo Dermawan; Abdillah Hasibuan; Muhammad Arya; Azhar Prasetyo
Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa Vol. 7 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/villages.v7i1.410

Abstract

Stunting merupakan permasalahan nasional yang memerlukan penanganan preventif sejak fase pra-nikah melalui penguatan edukasi kesehatan, kesiapan gizi, dan ketahanan keluarga. Pendekatan hulu dinilai strategis karena faktor risiko stunting sering kali bermula dari kurangnya pemahaman calon orang tua terhadap kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, dan pemenuhan gizi sebelum kehamilan. KUA Kecamatan Medan Perjuangan sebagai garda terdepan pelayanan keagamaan di tingkat kecamatan memiliki posisi strategis dalam memberikan pembinaan kepada calon pengantin (catin) melalui bimbingan perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergisitas antara KUA Kecamatan Medan Perjuangan dengan berbagai stakeholder yakni Pemerintah Kecamatan, Puskesmas, dan PPLKB dalam mengimplementasikan Program Sejuta Catin sebagai upaya preventif pencegahan stunting di wilayah urban. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan kontekstual. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif selama kegiatan magang, wawancara mendalam dengan penghulu dan penyuluh agama, serta studi dokumentasi terhadap pelaksanaan bimbingan perkawinan dan kolaborasi lintas sektor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi lintas sektoral berjalan efektif melalui pembagian peran yang komprehensif dan saling melengkapi. KUA berperan dalam penguatan nilai religius dan ketahanan keluarga, Puskesmas melakukan pemeriksaan kesehatan fisik dan skrining gizi, sementara PPLKB memberikan edukasi kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, dan pola asuh. Integrasi layanan dalam satu forum edukasi mampu meningkatkan kesadaran, kesiapan, dan partisipasi aktif catin terhadap pentingnya persiapan kesehatan sebelum menikah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi terintegrasi berbasis kecamatan merupakan model strategis, adaptif, dan berkelanjutan dalam memperkuat pencegahan stunting secara sistematis, khususnya di wilayah perkotaan dengan dinamika sosial yang kompleks.
Konsep Tabayyun dalam QS. Al-Hujurat Ayat 6 dan Relevansinya terhadap Fenomena Hoaks, Deepfake, dan Disinformasi di Media Sosial Fani Aqila; Ali Darta
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 7 No. 2 (2026): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the concept of tabayyun in Qur'an Surah Al-Hujurat [49]: 6 through a comparative examination of the interpretations of M. Quraish Shihab, Wahbah al-Zuhaili, and Sayyid Qutb and to examine its relevance as an ethical framework for information verification on social media. This qualitative study employs library research with a descriptive-analytical design. The data were analyzed using content analysis with an interpretive-comparative approach to three Qur'anic commentaries and relevant literature on hoaxes, deepfakes, and disinformation. The findings show that the three commentators position tabayyun as a principle of verifying information before accepting it or using it as a basis for action, although they emphasize different dimensions. Quraish Shihab emphasizes source validity and the epistemic dimension, al-Zuhaili emphasizes prudence and the prevention of harm, while Sayyid Qutb emphasizes social responsibility and the preservation of social cohesion. Their synthesis produces verification principles consisting of examining source credibility, clarifying content and context, comparing information with reliable sources, exercising caution, and assuming responsibility for information dissemination. These findings demonstrate that tabayyun can be developed as an ethical framework for Islamic digital literacy in addressing hoaxes, deepfakes, and disinformation.