Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSPEKTIF MAQASID AL-SYARIAH TERHADAP FENOMENA PENURUNAN MINAT MENIKAH PADA GENERASI MILENIAL DAN Z DI DESA DLAMBAH UTARA Nikmatun Nisa; Abdullah Afif
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 3 (2026): JUNI
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i3.2361

Abstract

This study examines the phenomenon of shifting attitudes toward marriage among Millennials and Generation Z in Dlambah Utara Village, Bangkalan Regency, and analyzes it using the Maqasid al-Shariah approach. This study employs a qualitative method through in-depth interviews using a case study approach. The results indicate that Millennials tend to postpone marriage due to financial burdens as part of the sandwich generation. From a Sharia perspective, this postponement constitutes a form of Hifz al-Din through the implementation of Birrul Walidain to prioritize supporting one’s parents. Among Generation Z, there is a sharp polarization of views based on gender. Generation Z men delay marriage due to economic pressure, difficulty finding employment, and anxiety regarding the tradition of living with in-laws. This is interpreted as an effort to fulfill leadership readiness (Qawwamah) and an act of prudence (ihtiyath) within Hifz al-Nasl to ensure future offspring are not neglected. Conversely, Generation Z women choose to marry immediately for economic stability and to avoid social stigmas such as the “sangkal” myth or the label of “old maid.” This decision aligns with the principle of protection (wiqayah) and the application of Sadd al-Dzari’ah to safeguard one’s honor from slander. In conclusion, this shift in marriage preferences among the rural youth is not a form of neglecting Sharia, but rather a contextual implementation of Maqasid al-Sharia amidst economic challenges and local traditions.
Keterlibatan Calon Istri dalam Menentukan Mahar Perkawinan: Perspektif Mazhab Syafi’i Wildan Saila Rizqi; Abdullah Afif
INTEGRASI : Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 4, No. 2 : INTEGRASI (JULI-DESEMBER 2026)
Publisher : Yayasan Maslahatul Ummah Ilal Jannah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61590/int.v4i02.517

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan mahar dalam hukum Islam, menelaah pandangan hukum Islam tentang keterlibatan calon istri dalam menentukan mahar, serta mengkaji bagaimana Mazhab Syafi’i memandang batas kewenangan wali dan partisipasi perempuan dalam penentuan mahar perkawinan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif, tekstual, dan konseptual. Sumber data primer berasal dari kitab-kitab fiqh Mazhab Syafi’i, al-Qur’an, dan hadis, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur hukum keluarga Islam kontemporer, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu yang relevan. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan metode deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahar dalam hukum Islam merupakan hak eksklusif perempuan yang wajib diberikan oleh calon suami sebagai konsekuensi dari akad nikah. Mazhab Syafi’i memang menempatkan wali sebagai rukun nikah, tetapi hal tersebut tidak menghilangkan hak perempuan untuk mengetahui, menyetujui, dan terlibat dalam penentuan mahar. Prinsip ridha dan kemaslahatan dalam Mazhab Syafi’i justru membuka ruang legitimasi terhadap partisipasi perempuan dalam penentuan mahar. Penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan calon istri dalam menentukan mahar dapat dipandang sebagai bentuk perlindungan hak perempuan dan penguatan nilai keadilan dalam perkawinan Islam.