Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PRAKTIK SPIRITUAL SEBAGAI MEKANISME HEALING ALUMNI PESANTREN DALAM MENGHADAPI LINGKUNGAN SOSIAL BARU Nazala Imro’ati Qurrota A’yun
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 3 (2026): JUNI
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i3.2408

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran praktik spiritual sebagai mekanisme healing berbasis religiusitas dalam mendukung proses adaptasi sosial alumni pesantren di lingkungan sosial baru. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada transisi yang dialami oleh lulusan pesantren yang berpindah dari lingkungan yang sangat terstruktur, kolektif, dan religius menuju lingkungan sosial yang lebih beragam dan dinamis seperti perguruan tinggi, dunia kerja, dan masyarakat luas. Transisi ini sering menimbulkan tantangan emosional, psikologis, dan sosial yang memerlukan strategi koping adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian lapangan yang didukung kajian kepustakaan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat informan yang mewakili berbagai jalur kehidupan pasca-pesantren, yaitu alumni yang langsung terjun ke masyarakat, melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Islam dan umum, serta yang telah bekerja secara formal. Data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang relevan mengenai spiritualitas, adaptasi sosial, dan kajian pesantren. Analisis data dilakukan menggunakan teknik deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi sosial alumni pesantren melibatkan penyesuaian emosional yang signifikan, termasuk perasaan kesepian, hilangnya kehidupan yang terstruktur, dan tekanan psikologis pada masa awal transisi. Praktik spiritual seperti dzikir, shalawat, doa, puasa, membaca Al-Qur’an, dan refleksi diri berfungsi sebagai mekanisme koping religius yang efektif dalam membantu individu mengelola emosi, mengurangi stres, dan memulihkan stabilitas psikologis. Selain itu, internalisasi nilai-nilai pesantren seperti adab, kedisiplinan, kesederhanaan, dan solidaritas sosial berkontribusi terhadap resiliensi serta memperkuat relasi interpersonal di lingkungan baru. Temuan ini mengindikasikan bahwa nilai spiritual dan moral yang dibentuk di pesantren tidak hanya berfungsi sebagai identitas religius, tetapi juga sebagai faktor protektif yang meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan adaptasi sosial dalam masyarakat modern