Anak berkebutuhan khusus di kelas inklusif menghadapi hambatan komunikasi yang beragam. Anak dengan autisme ringan cenderung mengalami defisit komunikasi nonverbal berupa ketiadaan kontak mata, ekspresi wajah datar, dan minimnya inisiasi bicara, sedangkan anak dengan hambatan intelektual ringan menunjukkan kesulitan sintaksis, kalimat tidak runtut, serta kecenderungan ekolalia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses dan hasil penerapan metode bermain peran adaptif dalam mengembangkan kemampuan komunikasi anak berkebutuhan khusus di TK Golden School Lamongan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan observasi longitudinal kecil, multiple case, dan intervensi naturalistik yang memungkinkan dokumentasi prosesual secara mendalam. Subjek penelitian adalah dua anak usia lima tahun, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif selama enam pertemuan, wawancara dengan guru, GPK, dan orang tua, serta dokumentasi perkembangan harian. Hasil menunjukkan peningkatan komunikasi sesuai karakteristik hambatan masing-masing, di mana AK mulai mampu melakukan kontak mata dua hingga tiga detik, menampilkan ekspresi wajah kontekstual, dan menginisiasi ucapan sederhana, sedangkan BR berkembang dari ekolalia menjadi jawaban runtut empat hingga lima kata dengan struktur subjek, predikat, dan objek serta mulai melakukan inisiasi bicara spontan. Novelty penelitian ini terletak pada dokumentasi prosesual longitudinal di TK inklusif penuh tanpa kelas khusus, analisis komparatif dua profil hambatan komunikasi dalam satu kelas, serta integrasi triangulasi multi sumber yang menghasilkan narasi utuh tentang mekanisme keberhasilan intervensi. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa bermain peran adaptif efektif apabila dirancang sesuai kebutuhan anak dan dilaksanakan secara kolaboratif antara guru, GPK, dan orang tua, serta penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk memperluas jumlah subjek dan memperkuat keterlibatan orang tua melalui program pendampingan terstruktur.