Azam Bahtiar
Sadra College of Islamic Studies, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A Hypothetical Reconstruction of the Lost Qurʼānic Commentary of Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (d. 911/1505) (Part 1) Azam Bahtiar; Muammar Zayn Qadafy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 63, No 2 (2025)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2025.632.323-353

Abstract

This article constitutes the first section of a two-part study designed to form a single, coherent work on a hypothetical reconstruction of the lost Qurʼānic commentary of al-Suyūṭī, Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn. The present part serves as an introduction, offering a critical investigation into the scholarly persona of the Egyptian polymath of the Burjī Mamlūk period. It focuses particularly on the complexity of his intellectual persona as a prolific author, followed by an examination of how he conceived of himself as a Qur’anic exegete and how transmitted reports (riwāyāt) occupied a position of high authority within his exegetical framework. Al-Suyūṭī engaged in intense scholarly confrontations with his contemporaries, most notably al-Sakhāwī (d. 902/1497), which involved accusations of plagiarism and sharp criticism of his intellectual methods. Conversely, his defense of Sufi figures such as Ibn ʻArabī (d. 638/1240) against charges of takfīr reveals a pronounced spiritual inclination, an aspect often overshadowed by his image as a muḥaddith–cum–exegete employing a radical report-based method in al-Durr al-Manthūr. Within the broader field of Qurʼānic exegesis, al-Suyūṭī is generally recognized through five works: al-Itqān, al-Durr al-Manthūr, Qaṭf al-Azhār, Nawāhid al-Abkār, and the first part of Tafsīr al-Jalālayn. We argue that only when these five works are considered collectively can one begin to apprehend the ambitious and comprehensive exegetical project that reflects al-Suyūṭī’s original scholarly vision.[Artikel ini merupakan bagian pertama dari sebuah kajian dua bagian yang dirancang untuk membentuk satu karya utuh dan koheren mengenai rekonstruksi hipotetis atas tafsir al-Qur’an karya al-Suyūṭī yang telah hilang, Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn. Bagian ini berfungsi sebagai pendahuluan dengan menyajikan telaah kritis terhadap sosok intelektual polymath Mesir pada periode Mamlūk Burjī tersebut. Kajian ini secara khusus menyoroti kompleksitas persona intelektualnya sebagai seorang penulis yang sangat produktif, diikuti dengan pembahasan mengenai bagaimana ia memandang dirinya sebagai seorang mufasir al-Qur’an serta bagaimana riwayat-riwayat transmisi (riwāyāt) menempati posisi otoritatif dalam kerangka penafsirannya. Al-Suyūṭī terlibat dalam berbagai konfrontasi ilmiah yang intens dengan para cendekiawan sezamannya, terutama dengan al-Sakhāwī (w. 902/1497), yang mencakup tuduhan plagiarisme serta kritik tajam terhadap metode intelektualnya. Di sisi lain, pembelaannya terhadap tokoh-tokoh sufi seperti Ibn ʻArabī (w. 638/1240) dari tuduhan takfīr menunjukkan kecenderungan spiritual yang kuat, suatu aspek yang kerap terabaikan oleh citranya sebagai seorang muḥaddith sekaligus mufasir yang menerapkan metode penafsiran berbasis riwayat secara radikal dalam al-Durr al-Manthūr. Dalam ranah tafsir al-Qur’an yang lebih luas, al-Suyūṭī umumnya dikenal melalui lima karya utama: al-Itqān, al-Durr al-Manthūr, Qaṭf al-Azhār, Nawāhid al-Abkār, dan bagian pertama dari Tafsīr al-Jalālayn. Kami berargumen bahwa hanya dengan mempertimbangkan kelima karya tersebut secara kolektif, seseorang dapat mulai memahami proyek tafsir yang ambisius dan komprehensif, yang mencerminkan visi intelektual orisinal al-Suyūṭī.]
A Hypothetical Reconstruction of The Lost Qur’anic Commentary of Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī (D. 911/1505) (Part 2): The Text of Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn Mu'ammar Zayn Qadafy; Azam Bahtiar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 64, No 1 (2026)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2026.641.121-147

Abstract

Although no manuscript of al-Suyūṭī’s (d. 911/1505) unfinished Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn is currently known to survive, al-Suyūṭī himself identifies it as a major project intended to bring together the transmitted and rational dimensions of Qurʼānic interpretation. The article reconstructs a hypothetical version of the work by critically synthesizing material from al-Suyūṭī’s tafsīr writings, including al-Iklīl, Muʻtarak al-Aqrān, Tanāsuq Al-Durar, and al-Durr al-Manthūr, following the author’s methodological rules as explicated in al-Itqān. Situating itself within established practices of historical textual reconstruction of Islamic texts, this article argues further that such reconstruction is possible if undertaken with careful creativity, allowing verifiable textual evidence to be distinguished from scholarly inference.[Meskipun hingga kini tidak diketahui adanya manuskrip Majmaʻ al-Baḥrayn wa Maṭlaʻ al-Badrayn karya al-Suyūṭī (w. 911/1505) yang belum selesai tersebut, al-Suyūṭī sendiri menyebutnya sebagai sebuah proyek besar yang dimaksudkan untuk mempertemukan dimensi riwayat dan rasional dalam penafsiran Al-Qur’an. Artikel ini merekonstruksi versi hipotetis dari karya tersebut dengan menyintesiskan secara kritis materi dari berbagai karya tafsir al-Suyūṭī, termasuk al-Iklīl, Muʻtarak al-Aqrān, Tanāsuq al-Durar, dan al-Durr al-Manthūr, dengan mengikuti kaidah-kaidah metodologis yang dijelaskan oleh penulis dalam al-Itqān. Dengan menempatkan kajian ini dalam praktik-praktik yang telah mapan dalam rekonstruksi tekstual historis atas teks-teks Islam, artikel ini lebih lanjut berargumen bahwa rekonstruksi semacam itu dimungkinkan jika dilakukan dengan kreativitas yang hati-hati, sehingga bukti tekstual yang dapat diverifikasi dapat dibedakan dari inferensi ilmiah.]