Komarudin Sassi
Universitas Al-Qur'an Ittifaqiah Indralaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Prinsip-Prinsip Al-Akhillā' Qs. Az-Zukhruf: 67 dan Relevansinya dalam Dinamika Perpolitikan: (Perspektif Sepuluh Mufassir dari Klasik Hingga Kontemporer): Penelitian Muhammad Iqbal Harun; Komarudin Sassi
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.297

Abstract

Penelitian ini mengkaji prinsip-prinsip al-akhillā' (persahabatan/pertemanan) dalam QS. Az-Zukhruf: 67 dan relevansinya dalam dinamika perpolitikan kontemporer berdasarkan perspektif sepuluh mufassir dari era klasik hingga kontemporer. Metode yang digunakan adalah tafsir maudhū'ī (tematik) dengan pendekatan komparatif lintas madzhab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-akhillā' dalam ayat tersebut memuat prinsip-prinsip fundamental: (1) loyalitas dibangun di atas nilai ketakwaan, bukan kepentingan duniawi; (2) persahabatan palsu berakhir dengan penyesalan di hari pembalasan; (3) hubungan politik yang tidak berlandaskan nilai-nilai rabbānī bersifat sementara dan merusak. Para mufassir klasik seperti al-Ṭabarī, al-Qurṭubī, dan Ibn Kathīr menegaskan bahwa al-akhillā' yang sejati adalah persahabatan yang menghantarkan kepada ketaatan kepada Allah. Mufassir modern seperti Sayyid Quṭb, al-Sha'rāwī, dan Ibn 'Āshūr mengkontekstualisasikan ayat ini dalam realitas perpolitikan yang seringkali mengorbankan nilai moral demi pragmatisme kekuasaan. Relevansi ayat ini dalam dinamika perpolitikan tampak dalam kritik terhadap oligarki, koalisi transaksional, dan pengkhianatan kepercayaan publik.
Keseimbangan Ideal Ritual Qiyam Al-Lail dan Qiyam An-Nahr dalam Qs. As-Sajdah: 15-16 Perspektif Al-Qurthubi: Penelitian Rizki Maulana Arifin; Komarudin Sassi
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.330

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep keseimbangan ideal antara qiyam al-lail (ibadah malam) dan qiyam an-nahr (aktivitas dan kesadaran spiritual siang hari) sebagaimana tersirat dalam QS. As-Sajdah: 15–16, melalui perspektif tafsir Imam Al-Qurthubi dalam al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān. Qiyam an-nahr dipahami sebagai totalitas keterlibatan seorang mukmin di siang hari, mencakup aktivitas produktif, ibadah sosial, dan infaq dalam makna luas, yang menjadi pasangan organik dari qiyam al-lail. Konsep ini memiliki akar kuat dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. Al-Furqān: 63–64 dan QS. Āli ‘Imrān: 190–191. Dengan menggunakan metode tafsir taḥlīli dan pendekatan muqāran (komparatif), penelitian ini mengeksplorasi dimensi teologis, psikologis, dan sosial dari kedua bentuk ibadah tersebut, serta kaitannya dengan huruf muqatta‘ah (الم) pada awal Surah As-Sajdah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qurthubi memandang keduanya sebagai satu ritme spiritual yang saling melengkapi. Terdapat tiga dimensi keseimbangan: vertikal-horizontal (ḥablun min Allāh dan ḥablun min al-nās), emosional (khawf–rajā’), dan individual-sosial. Huruf Alif-Lām-Mīm merepresentasikan sifat Allah seperti al-‘Alīm dan al-Ḥakīm, yang menegaskan bahwa keseimbangan ini merupakan manifestasi kehendak Ilahi yang melampaui rasio manusia. Konsep ini sangat relevan bagi generasi Muslim di era digital yang menghadapi fragmentasi waktu dan penurunan kualitas ibadah.