Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Guru Agama Hindu dalam Penguatan Sradha dan Bhakti Siswa Sekolah Dasar pada Abad-21 Studi Kasus di Sekolah Dasar Negeri 2 Tlogotirto Kabupaten Sragen Widi Dea Santi; Farida Setyaningsih; Putu Budiadnya
Pratyaksa: Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): April
Publisher : Samsara Institute Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strengthening the devotion and devotion of elementary school students through a contextual learning approach and the habituation of religious practices to form a character of discipline, honesty, politeness, and independence in worship. This research is qualitative with a descriptive case study method, analyzed using the Miles and Huberman model. The theoretical basis includes role theory, religious theory, and humanistic theory. Primary data sources were obtained from Hindu Religion teachers, students, principals, and parents, while secondary data were from related literature. Data collection techniques included participant observation, in-depth interviews, documentation, and literature studies. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data display, and conclusion verification. The focus of the research is the role of Hindu Religion teachers in strengthening the devotion and devotion of students at  Elementary School 2 Tlogotirto The main obstacles include the dominance of gadgets, variations in family backgrounds, and weak religious habits at home; added to the difficulty of teachers in digital adaptation and the lack of school-family synergy. The solution strategies implemented: 1) Learning Innovation: Utilization of storytelling, video media, educational games, and real practices (joint prayer, daily prayers, pasraman) that increase student motivation. 2) Role Modeling and a Humanistic Approach: Integrating the synergy of the Four Teachers for sustainable spiritual development. 3) Stakeholder Collaboration: Intensifying communication with parents to foster the inculcation of Hindu values ​​(dharma, satya, ahimsa) within the home environment. The implications of this strategy are manifested in improving students' religious character, discipline, and moral resilience.
Analisis Nilai-nilai Etika Tokoh Bhisma dan Ekalawya dalam Adiparwa terhadap Pendidikan Karakter di Era Digital Vera Santi Karani; Putu Budiadnya; Titin Sutarti
Pratyaksa: Jurnal Ilmu Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2026): April
Publisher : Samsara Institute Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakanghi oleh pentingnya pendidikan karakter di era digital akibat munculnya berbagai permasalahan moral, seperti hoax, cyberbullying, serta isu privasi dan keamanan data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai etika tokoh Bhisma dan Ekalawya dalam Adiparwa serta relevansinya terhadap pendidikan karakter di era digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data yang diperoleh dari teks Adiparwa, adapun buku Adiparwa yang digunakan dalam penelitian ini adalah terjemahan oleh Dra. Anak Agung Inten Mayuni, M.Hum., Drs. I Wayan Ana, M.Hum., Drs. I Made Jendra, M.A., dan Drs. I Wayan Sukarma, M.Si., cetakan ke-11 tahun 2013, yang diterbitkan oleh CV. Setia Abadi. Sementara itu, sumber data sekunder berupa berbagai literatur yang relevan, seperti buku-buku, artikel ataupun jurnal terdahulu yang berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Bhisma memiliki nilai etika berupa pengorbanan dan pengendalian diri, kesetiaan dan keteguhan, serta tanggung jawab dan pengabdian. Sementara itu, tokoh Ekalawya menunjukkan nilai etika berupa ketekunan dan disiplin dalam menuntut ilmu serta penghormatan dan bakti kepada guru. Nilai-nilai etika tersebur memiliki relevansi terhadap pendidikan karakter di era digital, khususnya pada dimensi berkebinekaan global dalam Profil Pelajar Pancasila yang berkaitan dengan komunikasi dan interaksi antarbudaya, refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan, serta berkeadilan sosial. Selain itu, nilai-nilai tersebut juga relevan dalam menghadapi berbagai permasalahan moral di era digital, seperti penyebaran hoax, cyberbullying, serta rendahnya kesadaran terhadap privasi dan keamanan data.