Zulfida
Institut Sains Al-qur’an Syekh Ibrahim Pasir Pengaraian, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kritis Klasifikasi Insya' Dalam Buku Ajar Bahasa Arab Tingkat Dasar: Perspektif Pakar Dan Implementasi Dalam Pembelajaran Zulfida; Anwar Sidik
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal At-Ta'bir Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59829/fwx2nm14

Abstract

Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa klasifikasi insya' ke dalam muqayyad, muwajjah, dan hurr merupakan kerangka pedagogis yang solid dan diakui oleh pakar untuk pembelajaran keterampilan menulis bahasa Arab tingkat dasar. Kerangka ini dirancang untuk memandu siswa dari latihan menulis yang paling terstruktur menuju ekspresi tulis yang lebih bebas dan kreatif. Namun, penelitian ini juga mengungkap adanya kesenjangan antara idealisme klasifikasi ini dengan realitas implementasi di kelas dan perancangan buku ajar.Salah satu temuan kunci adalah bahwa meskipun buku ajar mengadopsi klasifikasi ini, seringkali tidak ada cukup materi atau latihan yang mendukung transisi yang mulus antar tahapan. Siswa sering mengalami kesulitan signifikan saat diminta untuk beralih dari menulis terbimbing ke menulis bebas. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan buku ajar perlu lebih menekankan pada latihan "jembatan" yang secara bertahap mengurangi tingkat bimbingan, sehingga siswa dapat mengembangkan kemandirian menulis secara progresif. Perspektif pakar juga menggarisbawahi pentingnya melampaui aspek tata bahasa murni dalam pembelajaran insya'. Keterampilan menulis tidak hanya tentang kebenaran gramatikal, tetapi juga tentang kemampuan mengekspresikan ide secara kohesif, koheren, dan komunikatif. Buku ajar dan praktik pengajaran perlu lebih mengintegrasikan unsur-unsur berpikir kritis, kreativitas, dan konteks budaya dalam latihan insya'. Memberikan tema-tema yang relevan dengan kehidupan siswa atau isu-isu yang menarik dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan ekspresi mereka. The results of this study confirm that the classification of insya’ into muqayyad, muwajjah, and hurr constitutes a solid pedagogical framework that is widely recognized by experts for teaching basic-level Arabic writing skills. This framework is designed to guide students from the most structured writing exercises toward freer and more creative written expression. However, this study also reveals a gap between the idealism of this classification and the reality of its implementation in classrooms and textbook design. One of the key findings is that although textbooks adopt this classification, they often lack sufficient materials or exercises to support a smooth transition between stages. Students frequently experience significant difficulties when required to move from guided writing to free writing. This indicates that textbook development needs to place greater emphasis on “bridging” exercises that gradually reduce the level of guidance, enabling students to develop writing independence progressively. Expert perspectives also underline the importance of going beyond purely grammatical aspects in teaching insya’. Writing skills are not only about grammatical accuracy, but also about the ability to express ideas cohesively, coherently, and communicatively. Textbooks and teaching practices need to better integrate elements of critical thinking, creativity, and cultural context into insya’ exercises. Providing themes that are relevant to students’ lives or interesting contemporary issues can enhance both their motivation and their expressive abilities.
Dinamika Historis Ilmu Balaghah dan Analisis Gaya Tasybih Dalam Al Qur’an : Perspektif Ilmu Bayan Klasik dan Kontemporer Zulfida; Anwar Sidik
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal At-Ta'bir Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59829/raxb3r68

Abstract

Kajian ini membahas tentang betapa pentingnya peran ilmu balaghah dalam menjaga keaslian bahasa Arab, serta melihat kembali sejarah awalnya sebagai cara mempertahankan gaya bicara bangsa arab. Munculnya ilmu ini bermula dari keinginan para ahli untuk menjaga agar pesan dalam al-Quran tidak salah dipahami akibat masuknya pengaruh asing yang merusak tata bahasa. Pembahasan utama dalam tulisan ini adalah tentang gaya bahasa tasybih yang sering digunakan untuk membandingkan dua hal dalam ilmu bayan. Dengan menggunakan cara penjelasan yang sederhana dan mengambil dasar dari pemikiran tokoh besar seperti Abdul Qahir al-Jurjani tulisan ini mengupas bagian dalam tasybih seperti benda yang dibandingkan serta alasan kesamaannya. Hasil dari pembahasan ini menunjukkan bahwa tasybih bukan sekadar hiasan agar kalimat terdengar indah saja tetapi juga berfungsi untuk menjelaskan ide yang sulit agar lebih mudah dimengerti lewat contoh nyata. Memahami sejarah dan jenis tasybih merupakan kunci utama agar seseorang bisa tetap lancar dan benar dalam berbahasa Arab. Maka ilmu balaghah adalah penjaga abadi bagi keindahan dan kebenaran makna bahasa arab agar tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. This study discusses the importance of the role of Balaghah science in preserving the authenticity of the Arabic language, while also reviewing its early history as a means of maintaining the speaking style of the Arab people. The emergence of this discipline began with the desire of scholars to prevent the messages of the Qur'an from being misunderstood due to the influence of foreign elements that could damage the structure of the language. The main discussion in this paper focuses on the figurative style of tasybih (simile), which is frequently used in Ilm al-Bayan to compare two things. By using a simple explanatory method and drawing upon the thoughts of prominent scholars such as Abdul Qahir al-Jurjani, this paper examines the elements of tasybih, including the compared objects and the reasons for their similarity. The results of this discussion show that tasybih is not merely an ornament to beautify sentences, but also functions to clarify complex ideas so they can be more easily understood through concrete examples. Understanding the history and types of tasybih is a key factor in enabling someone to speak Arabic fluently and correctly. Therefore, Balaghah remains an eternal guardian of the beauty and accuracy of the meanings of the Arabic language amid the development of the modern era.