Ahmad Syaeful Rahman
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Gaya Bahasa dalam Puisi ”Syiwa-Nataraja” Karya Sanusi Pane dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Menengah Atas Ratna Sophia; Ahmad Syaeful Rahman; Bustomi
ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Mei
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/estetik.v9i1.16205

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis gaya bahasa menggunakan pendekatan stilistika, mendeskripsikan fungsi dari gaya bahasa dilihat dari majasnya, mendeksripsikan adanya pengaruh estetika dan ekspresi pada puisi, dan dimanfaatkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Puisi ”Syiwa-Nataraja” karya Sanusi Pane adalah puisi yang mengandung makna tentang perjalanan spiritual, refleksi tentang pencarian makna dan kemerdekaan diri yang ditemukan adanya gaya bahasa jenis bahasa figuratif atau majas diantaranya ditemukan delapan jenis majas dengan jumlah keseluruhan 77 data, yang meliputi majas perbandingan berupa metafora sebanyak 29 data, personifikasi 10 data, simile 3 data, hiperbola 12 data, dan alusi 4 data; majas penegasan berupa repetisi 10 data dan paralelisme 8 data; serta majas pertentangan berupa paradoks sebanyak 1 data. Hasil penelitian ini memiliki relevansi yang kuat untuk diimplementasikan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, khususnya pada kelas XI dalam materi apresiasi puisi yang tercantum pada Bab 5 Kurikulum Nasional, yaitu “Mengembangkan Apresiasi Puisi Bertema Kehidupan Bermakna”. Analisis gaya bahasa dalam puisi “Syiwa-Nataraja” dapat dimanfaatkan sebagai materi ajar kontekstual untuk membantu peserta didik memahami peran majas dalam membangun makna dan keindahan puisi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan bentuk deskriptif-analitic (trick description). Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan objektif dengan meneliti karya sastra untuk menemukan makna di dalamnya dan didukung dengan menggunakan analisis content (isi-makna). Sumber datanya adalah puisi ”Syiwa-Nataraja” karya Sanusi Pane menggunakan teknik catat sebagai teknik pengumpulan data dan dilengkapi dengan langkah-langkah analisis stilistika Leech dan Short.
Masyi'atillah dalam Tafsir al-Rāzī dan al-Zamakhsyarī: Studi Komparasi atas Konsep Kebebasan Ilahiyah dan Determinisme Syaifullah; Ahmad Syaeful Rahman
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 3 (2026): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (August)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v6i3.1211

Abstract

The concept of masyi'atillah (God's will) serves as a central point in Islamic theological debates between human free will (ikhtiyar) and determinism (jabr). This study examines a comparative analysis of al-Zamakhsharī's interpretation in Tafsir al-Kāshshāf and al-Rāzī's in Mafātīh al-Ghayb regarding masyi'atillah, particularly in relation to divine freedom and human determinism. Al-Zamakhsharī, representing the Mu'tazilite view, emphasizes that humans have full freedom over their actions and asserts that masyi'atillah does not negate moral responsibility. In contrast, al-Rāzī, with his Ash'arite approach, affirms that all human actions remain within the framework of God's will, although he allows room for limited human agency. This qualitative research employs textual study and comparative analysis of verses concerning qadar, ikhtiyar, and masyi'at. The findings reveal a fundamental difference: al-Zamakhsharī stresses human freedom and responsibility, while al-Rāzī emphasizes the dominance of God's will without entirely closing the door to constrained human will. These findings confirm that the concept of masyi'atillah in Qur'anic exegesis is not monolithic but contains interpretive variants influenced by each exegete's theological school, thereby enriching our understanding of theological dynamics regarding destiny and human freedom