Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sistem dan Perilaku Masyarakat Urban (Penelitian pada Komunitas Flower City Bladers) Ahmad Samsudin; Rokibullah Rokibullah; Feri Anugerah
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v5i2.2730

Abstract

Urbanisasi yang pesat di Kota Bandung telah membentuk dinamika masyarakat urban yang kompleks, di mana kemajuan teknologi dan tekanan kehidupan modern berpengaruh pada pola interaksi sosial. Salah satu bentuk adaptasi masyarakat urban terhadap dinamika tersebut tercermin melalui pembentukan komunitas berbasis hobi, seperti Komunitas Flower City Bladers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem sosial dan perilaku masyarakat urban yang tergabung dalam Komunitas Flower City Bladers di Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologis melalui teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, wawancara bebas, observasi lapangan, dan dokumentasi. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, sementara analisis data dilakukan secara iteratif dan dikaji menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) dari Icek Ajzen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku anggota komunitas dibentuk oleh empat dimensi TPB, yaitu niat yang tercermin dalam tagline "Kejar Prestasi Tapi Enggak Lupa Rekreasi", sikap positif terhadap pengembangan bakat dan gaya hidup modern, norma subjektif berupa dukungan sosial antaranggota, serta kontrol perilaku yang baik melalui komitmen terhadap kegiatan komunitas. Komunitas ini juga berhasil menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan interaksi sosial langsung sehingga memperkuat solidaritas, jaringan sosial, dan pengembangan diri anggotanya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Komunitas Flower City Bladers merupakan representasi masyarakat urban Bandung yang mampu beradaptasi dengan modernitas tanpa kehilangan nilai-nilai kebersamaan.
Interfaith Communication in Digital Space: A Phenomenological Study Experience Interfaith Communication among Indonesian Users on the App Hellotalk Bayu Firmansyah; Ahmad Samsudin
Interdisciplinary Journal of Advanced Research and Innovation Vol. 4 No. 1 (2026): Interdisciplinary Journal of Advanced Research and Innovation
Publisher : Ravine Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58860/ijari.v4i1.92

Abstract

This study investigates the phenomenon of interfaith communication among Indonesian Muslim users of the HelloTalk language-exchange application, examining how this platform has evolved into a hybrid space of “Digital Religion”. Employing Alfred Schutz’s social phenomenology and Abraham Maslow’s hierarchy of needs as complementary theoretical frameworks, this qualitative research utilized purposive sampling to select two key informants who actively engage in interfaith discussions on HelloTalk. Data were collected through semi-structured in-depth interviews conducted online and analyzed using phenomenological reduction. Trustworthiness was ensured through source triangulation and member checking. The novelty of this study lies in its dual-framework approach  simultaneously mapping motivational structures (Schutz) and psychological needs (Maslow) within a non-religious digital platform. The results indicate that users’ Because Motives are rooted in past positive experiences with non-Muslims and inspiration from the Prophet’s da’wah stories. Meanwhile, the In-Order-To Motives are dominated by a missionary mission to earn spiritual merit (Self-Transcendence), a desire to correct global misconceptions about Islam (Esteem and Safety Needs), and the aspiration to forge cross-cultural global connections (Love/Belonging and Esteem). The findings demonstrate that HelloTalk users deliberately sacralize a secular digital platform, transforming it into a field of spiritual service. This study contributes theoretically to Digital Religion scholarship by documenting a novel form of faith diplomacy enacted by lay Muslim users through algorithm-mediated intercultural communication, and contributes practically by informing digital da’wah strategy and interfaith dialogue programs in the Indonesian Muslim context.