The Hajat Sasih ceremony in Kampung Naga, Tasikmalaya, represents a traditional ritual rich in local wisdom and spirituality. This study aims to analyze how Christian values can be contextualized within this ritual without compromising the integrity of Christian faith. Using a qualitative approach through literature study, this research employs the framework of critical contextualization as proposed by Paul G. Hiebert. The findings indicate that several elements such as gratitude, communal life, ecological awareness, humility, and social solidarity can be contextually integrated, while elements conflicting with biblical teachings require transformation. This study contributes to the discourse of contextual theology by offering a balanced model between faithfulness to the Gospel and cultural relevance. AbstrakUpacara Hajat Sasih di Kampung Naga merupakan ritual adat yang mencerminkan kearifan lokal dan spiritualitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana nilai-nilai kekristenan dapat dikontekstualisasikan dalam upacara tersebut tanpa menghilangkan identitas iman Kristen. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Penelitian ini menggunakan kerangka kontekstualisasi kritis dari Paul G. Hiebert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai seperti syukur, kebersamaan, ekoteologi, dan kerendahan hati dapat diintegrasikan, sementara unsur yang bertentangan dengan Alkitab perlu ditransformasi. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan teologi kontekstual yang seimbang antara kesetiaan pada Injil dan relevansi budaya.