Miskonsepsi pada konsep energi masih sering ditemukan dalam pembelajaran IPA dan menjadi hambatan utama bagi siswa dalam memahami fenomena ilmiah secara benar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas model pembelajaran Children Learning In Science (CLIS) berbantu animasi animaker dalam menurunkan miskonsepsi siswa kelas VIII pada materi energi. Metode yang digunakan yaitu kuasi eksperimen dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah 60 siswa MTs Al-Ghozaly Siwatu melibatkan kelas eksperimen (30 siswa) yang memperoleh pembelajaran CLIS berbantu animasi dan kelas kontrol (30 siswa) yang memperoleh pembelajaran konvensional. Instrumen yang digunakan berupa tes Four Tier Diagnostic Test terdiri dari 10 butir soal untuk mengidentifikasi kategori paham konsep, miskonsepsi, tidak paham, dan error, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa penerapan model CLIS berbantu animasi animaker efektif dalam menurunkan miskonsepsi siswa, yang ditunjukkan oleh penurunan persentase miskonsepsi pada kelas eksperimen disertai pergeseran kategori jawaban dari miskonsepsi menuju paham konsep berdasarkan hasil four-tier diagnostic test, serta didukung oleh peningkaan nilai N-Gain pada posttest dengan rata-rata skor N-Gain kelas eksperimen sebesar 70,99% dengan kategori “cukup efektif, sedangkan kelas kontrol hanya mencapai skor 38,89% dengan kategori “tidak efektif”. Uji-t independen menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,001 (< 0,05), menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Temuan ini membuktikan bahwa pembelajaran CLIS berbantu animasi animaker efektif dalam merekonstruksi konsep energi, yang ditunjukkan oleh penurunan persentase miskonsepsi pada kelas eksperimen dibandingkan kelas kontrol serta pergeseran dominan kategori jawaban dari miskonsepsi menjadi paham konsep berdasarkan hasil four-tier diagnostic test siswa serta menurunkan miskonsepsi secara lebih optimal dibandingkan pembelajaran konvensional. Model ini dapat menjadi alternatif inovatif dalam pembelajaran IPA khususnya pada materi-materi abstrak yang berpotensi menimbulkan miskonsepsi.