Dayat
Program Studi Ilmu Hadis, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Jombang, Jawa Timur, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Living Hadis di Tengah Alunan Musik: Internalisasi Hadis Keutamaan Shalawat dalam Tradisi Shalawatan Jambesari Bondowoso : Penelitian Dayat; Abduk Karim Amrullah; Muhammad Alamudin
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6496

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi hadis-hadis yang digunakan sebagai landasan tradisi acara shalawatan yang diiringi musik di Desa Jambesari, Bondowoso; (2) mendeskripsikan praktik pelaksanaannya; dan (3) mengungkap dialektika antara teks hadis Nabi ﷺ dan praktik tradisi tersebut dalam kehidupan masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Living Hadis, melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap tiga informan kunci (Kyai Ghazali Utsman, Kyai Barmawi Burhan, dan Kyai Zainuri), serta dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, tradisi acara shalawatan dilandasi oleh delapan kelompok hadis yang mencakup keutamaan shalawat, kebolehan rebana, etika bersuara, dan pentingnya niat; kedua, acara dilaksanakan secara kolektif setelah salat Isya dengan iringan hadroh dan rebana, memadukan shalawat klasik dan kontemporer, serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat; ketiga, terdapat dialektika yang dinamis antara teks hadis dan realitas sosial-budaya, di mana masyarakat memahami hadis secara kontekstual dan mengadaptasikannya dengan kearifan lokal di bawah bimbingan ulama setempat. Tradisi acara shalawatan beriringan musik di Desa Jambesari merupakan wujud nyata Living Hadis model praktik: hadis tentang anjuran memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ dihidupkan dalam bentuk tradisi kolektif yang tumbuh, relevan, dan bermakna bagi komunitas yang mengamalkannya, selama tetap berlandaskan niat ikhlas dan tidak mengandung unsur kemaksiatan.