Hasil pra riset pada UD Sri Wahyuni Ukir menunjukkan masih terjadi miskomunikasi, terutama terkait tenggat waktu dan pemahaman instruksi, sehingga menghambat proses produksi dan berpotensi menurunkan kinerja. Penelitian ini memiliki tiga tujuan 1) Mengapa pimpinan UD Sri Wahyuni Ukir menggunakan komunikasi interpersonal. 2) Bagaimana hambatan komunikasi interpersonal pimpinan UD Sri Wahyuni Ukir dalam peningkatan kinerja karyawan. 3) Bagaimana strategi pimpinan UD Sri Wahyuni Ukir dalam mengatasi hambatan komunikasi interpersonal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami secara mendalam dinamika komunikasi interpersonal di lingkungan kerja produksi ukiran. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Penelitian ini bertumpu pada Teori Fundamental Interpersonal Relationship Orientation (FIRO), konsep noise dan hambatan komunikasi menurut Devito, serta Teori Efektivitas Komunikasi Interpersonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Alasan pimpinan menggunakan komunikasi interpersonal berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan keikutsertaan, pengendalian, dan kasih sayang dalam hubungan kerja, membangun kedekatan emosional, memperjelas tugas, serta menjaga kualitas karya ukiran yang menuntut ketelitian tinggi. 2) Hambatan komunikasi interpersonal yang muncul meliputi hambatan psikologis seperti tekanan kerja, kecemasan terhadap tenggat dan kualitas, hambatan semantik seperti perbedaan pemahaman istilah teknis dan detail ukiran, serta hambatan situasional seperti keterbatasan waktu, kebisingan area produksi, dan beban kerja yang padat yang berpengaruh terhadap kelancaran proses kerja dan kinerja karyawan. 3) Strategi yang diterapkan pimpinan untuk mengatasi hambatan tersebut meliputi peningkatan keterbukaan melalui penjelasan instruksi yang rinci dan dialog dua arah, penguatan empati dan sikap mendukung dalam menghadapi tekanan kerja, serta pembangunan kesetaraan dan sikap positif dalam komunikasi sehari-hari.