Transformasi sosial yang dipengaruhi oleh digitalisasi telah mengubah ekosistem industri seni secara fundamental. Seniman (musisi) dituntut untuk berinovasi dan kreatif dalam mencari sumber pendapatan baru. Penelitian ini berfokus pada fenomena pemandu karaoke massal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa sebagai inovasi model bisnis, dengan menggunakan studi kasus Pemandu Hura-Hura dari Banjarmasin sebagai manifestasi ketahanan bisnis di luar industri musik sentral. Ari Sutrisno (Gorr) sebagai pendiri Pemandu Hura-Hura muncul sebagai respons kerinduan masyarakat terhadap sajian musik dan momen bernyanyi bersama (sing-along) dan berhasil memanfaatkan format sajian ini menjadi salah satu sumber penghasil yang cukup signifikan. Melalui pendekatan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menganalisis strategi Pemandu Hura-Hura dalam mempertahankan relevansi dan keberlanjutan bisnis melalui replikasi serta adaptasi dari format yang sudah teruji, personal branding yang kuat, dan pemenuhan kebutuhan audiens akan pengalaman kolektif, menjadikan inovasi di era digital adalah esensi untuk bertahan hidup bagi seniman (musisi) lokal.Analysis of Business Strategy and Resilience in the Musical Presentation of Pemandu Hura-Hura ABSTRACT Social transformation driven by digitalization has fundamentally altered the ecosystem of the art industry. Artists (musicians) are required to innovate and explore alternative revenue streams. This research examines the phenomenon of "mass karaoke performance" in Jakarta and other major cities in Java as a business model innovation. Using a case study method, this paper focuses on Pemandu Hura-Hura from Banjarmasin as a manifestation of business resilience outside the centralized music industry. Founded by Ari Sutrisno (Gorr), this form of performance emerged in response to the public's yearning for "sing-along" experiences, and successfully monetizing this format into a significant income source. Employing a qualitative research methodology, this study analyzes strategies for maintaining business relevance and sustainability through the replication and adaptation of proven formats, robust personal branding, and the fulfilment of audience demands for collective experiences. The findings suggest that in the digital era, innovation is an essential survival mechanism for local musicians to maintain their livelihoods and cultural presence.