Penelitian ini membahas fenomena gender non-binary dalam kegiatan PKKMB Universitas Hasanuddin yang kemudian menjadi viral di media sosial TikTok. Fenomena ini muncul ketika seorang mahasiswa baru mengidentifikasi dirinya sebagai gender netral dan memunculkan berbagai respons publik, baik dukungan maupun penolakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi gender non-binary dalam konten TikTok, memahami pola interaksi pengguna media sosial terhadap fenomena tersebut, serta mengkaji konstruksi sosial gender netral di ruang digital. Penelitian menggunakan metode netnografi dengan pendekatan kualitatif melalui pengamatan terhadap unggahan video, komentar, serta interaksi pengguna TikTok terkait kasus gender netral di PKKMB Universitas Hasanuddin. Teori yang digunakan adalah teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann serta teori performativitas gender Judith Butler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga ruang pembentukan makna sosial mengenai gender. Fenomena gender netral memperlihatkan adanya benturan antara pemahaman gender biner yang masih dominan dengan munculnya identitas gender yang lebih inklusif. Respons publik yang muncul menunjukkan proses negosiasi makna gender di ruang digital melalui dukungan, kritik, dan perdebatan yang berlangsung di media sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa identitas gender non-binary merupakan hasil konstruksi sosial yang dibentuk melalui interaksi sosial, representasi media, dan perkembangan budaya digital dalam masyarakat modern.