Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pragmatika humor dalam meme politik TikTok sebagai bentuk kritik sosial digital pada konteks Pemilu Presiden Indonesia 2024. Maraknya meme politik selama periode tersebut mencerminkan pergeseran signifikan dalam cara warganet, khususnya Generasi Z, terlibat dalam wacana politik di ruang digital yang semakin terbuka dan partisipatif. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tiga kerangka teori: implikatur percakapan Grice (1975), teori relevansi Sperber dan Wilson melalui Yus (2021), dan fungsi humor Harpriyanti dkk. (2023). Data dikumpulkan melalui purposive sampling berupa 20 meme politik TikTok dari 15 akun berbeda selama Januari–Desember 2024, dengan pengambilan data pada Maret 2026 menggunakan tagar-tagar politik yang relevan. Analisis mengungkap empat strategi humor utama: ironi (40%), parodi (25%), sarkasme (25%), dan satire (10%), yang secara sistematis memanfaatkan pelanggaran maksim kualitas dan relevansi Grice untuk membangun implikatur percakapan kritis. Pelanggaran maksim tersebut menyematkan kritik sosial-politik dalam konten yang tampak humoris. Ironi mendominasi melalui kontras audiovisual khas TikTok; parodi memanfaatkan budaya remiksiasi via fitur duet dan stitch; sarkasme menyalurkan frustrasi sosial-politik yang tersublimasi; dan satire beroperasi sebagai mekanisme koreksi sosial kolektif yang diterima secara kultural. Penelitian menyimpulkan bahwa meme politik TikTok menjalankan tiga fungsi sosial sekaligus: wahana kritik sosial yang demokratis, alat pembentukan identitas kolektif bagi Generasi Z, dan ruang katarsis emosional di tengah dinamika demokrasi Indonesia. Temuan ini menegaskan relevansi kerangka GTVH Attardo (1994) pada objek multimodal digital serta menekankan pentingnya literasi digital kritis dalam memanfaatkan meme sebagai ekspresi politik yang bertanggung jawab.