Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya kebutuhan interaksi sosial, pencarian identitas diri, serta pengaruh teman sebaya. Namun, sebagian remaja masih mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan, menyampaikan pendapat, dan mengontrol emosi secara tepat sehingga rentan mengalami konflik interpersonal, rendahnya kepercayaan diri, serta kesulitan dalam hubungan sosial. Kondisi tersebut juga ditemukan pada remaja di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) X, Kedoya Selatan, yang menunjukkan perilaku pasif, gugup saat berbicara, hingga penggunaan komunikasi yang kurang tepat ketika marah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membantu remaja mengembangkan kemampuan komunikasi asertif melalui assertiveness training berbasis metode interaktif. Metode yang digunakan adalah mix methods dengan teknik wawancara, observasi, serta pre-test dan post-test menggunakan Adolescent Assertiveness Assessment Scale (AAA-S). Partisipan berjumlah tujuh anak usia 12–13 tahun yang mengikuti intervensi selama enam minggu. Intervensi dilakukan melalui psikoedukasi, role playing, journaling, permainan werewolf, bercerita, dan debat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi asertif yang ditunjukkan melalui kenaikan rata-rata skor pre-test dari 54,4 menjadi 57,4 pada post-test. Hasil observasi juga menunjukkan partisipan menjadi lebih berani menyampaikan pendapat, lebih terbuka mengekspresikan perasaan, serta lebih mampu menggunakan komunikasi yang sopan dan terstruktur. Dengan demikian, assertiveness training berbasis metode interaktif efektif membantu meningkatkan kemampuan komunikasi asertif remaja di RPTRA X.