Tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) memiliki nilai ekonomis tinggi, namun produktivitasnya sering terkendala oleh rendahnya kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas sinergi antara pupuk hayati Bioboost dan pupuk NPK organik terhadap performa agronomis tanaman mentimun. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk hayati Bioboost (0, 40, dan 55 mL/L air), dan faktor kedua adalah dosis pupuk NPK organik (0, 15, 45, dan 60 g/tanaman).Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara mandiri, kedua jenis pupuk memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman, meskipun tidak ditemukan interaksi statistik yang signifikan antara keduanya. Pada fase vegetatif, aplikasi Bioboost dosis 55 mL/L (W2) secara konsisten menghasilkan tinggi tanaman optimal pada umur 14 dan 21 HST. Menariknya, pada awal pertumbuhan, tanaman tanpa NPK organik (N0) menunjukkan tinggi yang lebih unggul dibandingkan dosis tinggi. Namun, pada fase generatif, pupuk NPK organik menjadi faktor krusial bagi produktivitas. Dosis NPK organik 45 g/tanaman (N2) terbukti paling efektif dengan menghasilkan jumlah buah terbanyak (3,22 buah), buah terpanjang (19,82 cm), diameter terbesar (47,32 mm), serta berat buah per tanaman tertinggi mencapai 0,89 kg. Disimpulkan bahwa kombinasi Bioboost 55 mL/L dan NPK organik 45 g merupakan rekomendasi teknis terbaik untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas mentimun sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem tanah.