ABSTRACT Limited student engagement in Indonesian language learning has contributed to low academic achievement, particularly in figurative language (majas) lessons that require contextual interpretation of meaning. This condition prompted an effort to improve the learning process through the implementation of the Student Teams Achievement Division (STAD) cooperative learning model among sixth-grade students at SD Negeri 1 Timbang. The study was conducted as a Classroom Action Research by adopting the Kemmis and McTaggart cycle, which consists of planning, action, observation, and reflection carried out repeatedly. A total of 17 students, comprising 8 boys and 9 girls, participated in the research, which was implemented in two cycles. Research data were collected through learning achievement tests, classroom activity observations, and documentation, and were analyzed using descriptive quantitative and qualitative approaches to capture changes occurring throughout the intervention. The learning process demonstrated consistent improvement across cycles. Learning mastery increased from 70.58% in Cycle I to 88.23% in Cycle II, while student activity rose from 73.52% to 90.58%. These findings indicate that the STAD model expands student participation in the learning process while strengthening their understanding of figurative language through structured group interaction. Therefore, STAD has the potential to serve as an effective instructional alternative for improving Indonesian language learning achievement and fostering a more active, collaborative, and student-centered learning environment. ABSTRAK Keterlibatan siswa yang belum optimal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia berimplikasi pada rendahnya capaian belajar, termasuk pada materi majas yang menuntut kemampuan memahami makna bahasa secara kontekstual. Situasi tersebut mendorong dilakukannya upaya perbaikan pembelajaran melalui penerapan model kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Timbang. Kajian ini dilaksanakan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas dengan mengadaptasi siklus Kemmis dan McTaggart yang mencakup perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi secara berulang. Sebanyak 17 siswa yang terdiri atas 8 laki-laki dan 9 perempuan terlibat dalam penelitian yang berlangsung selama dua siklus. Informasi penelitian diperoleh melalui tes hasil belajar, observasi aktivitas pembelajaran, serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menggambarkan perubahan yang terjadi selama tindakan berlangsung. Dinamika pembelajaran memperlihatkan perkembangan yang konsisten pada setiap siklus. Persentase ketuntasan belajar meningkat dari 70,58% pada siklus I menjadi 88,23% pada siklus II, sementara aktivitas siswa bertambah dari 73,52% menjadi 90,58%. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis STAD mampu memperluas partisipasi siswa dalam proses belajar sekaligus memperkuat pemahaman terhadap materi majas melalui interaksi kelompok yang terstruktur. Dengan demikian, model STAD berpotensi menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk mendukung peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, kolaboratif, serta berpusat pada siswa.