Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Effect of Shopping Dependence, Consumptive Behavior on Fintech Lending with Consumer Debt Levels as Intervening Variables Rinintha Parameswari; Fredy Perdana Putra; Rudiyanto
Primanomics : Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol. 23 No. 1 (2025): Primanomics : Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Publisher : LPPM Universitas Buddhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31253/pe.v23i1.3405

Abstract

This study examines the influence of online shopping dependence and consumer behavior on online loans, with consumer debt levels as intervention variables. The background of this study is the phenomenon of increasing consumer behavior driven by the ease of online shopping, which often triggers compulsive shopping behavior. The purpose of this study is to understand how dependence on online shopping and consumer behavior affect consumer debt through the use of fintech loan services. The research method uses a descriptive quantitative approach with data collection through questionnaires from 100 respondents who use e-commerce applications and online loans. Data were analyzed using path regression analysis to determine significant relationships between the variables studied. The results show that shopping dependence and consumer behavior have a significant direct and indirect effect on consumer debt levels through online loans. This conclusion emphasizes the importance of managing shopping habits and financial behavior in overcoming consumer debt problems in the digital era. Direct Influence: Online shopping dependency (X1) has a significant effect on online loans (Y) with a beta coefficient of 0.288 and on consumer debt (Z) with a coefficient of 0.456.Consumer behavior (X2) also has a significant effect on Y (coefficient 0.626) and on Z (coefficient 0.275).Online loans (Y) have a significant effect on consumer debt (Z) with a coefficient of 0.224. Indirect Influence: The indirect effect of X1 on Z through Y is 0.0621, so the total effect is 0.50. The indirect effect of X2 on Z through Y is 0.085, with a total effect of 0.374.
The Effects of Job Satisfaction, Organizational Culture, and Work Motivation on Employee Retention: Compensation as a Moderating Variable Fredy Perdana Putra; Nana Sutisna
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3312

Abstract

Turnover karyawan pada perusahaan makanan beku di Tangerang masih menjadi perhatian manajerial karena tuntutan produksi yang intensif, kondisi kerja yang menantang, serta mobilitas karyawan yang berulang dapat mengganggu keberlangsungan operasional dan meningkatkan pentingnya penerapan strategi retensi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepuasan kerja, budaya organisasi, dan motivasi kerja terhadap retensi karyawan, serta menguji kompensasi baik sebagai prediktor langsung maupun sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara ketiga faktor tersebut dengan retensi karyawan pada perusahaan makanan beku di Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei kausal dan teknik purposive sampling. Kebutuhan sampel minimum adalah 250 responden berdasarkan 25 indikator, sedangkan data yang dianalisis terdiri dari 305 responden karyawan yang valid dari PT Adilmart CCK (Jofrans), PT Dagsap Endura Eatore (Hemato), PT Essem Food, dan PT Porto Food Indonesia (Bartos). Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja (β=0,389; p<0,001), budaya organisasi (β=0,285; p<0,001), motivasi kerja (β=0,473; p<0,001), dan kompensasi (β=0,185; p=0,008) berpengaruh positif dan signifikan terhadap retensi karyawan. Kompensasi juga terbukti memperkuat pengaruh kepuasan kerja (β=0,142; p=0,015) dan budaya organisasi (β=0,144; p=0,025) terhadap retensi karyawan. Namun, kompensasi tidak terbukti memoderasi hubungan antara motivasi kerja dan retensi karyawan (β=0,011; p=0,438). Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi kerja merupakan prediktor langsung yang paling kuat terhadap retensi karyawan, sementara mekanisme motivasi nonfinansial tetap memiliki peran penting dalam mempertahankan karyawan meskipun kompensasi telah diperhitungkan.