Sektor perikanan tangkap, khususnya ikan pelagis kecil, memiliki posisi strategis dalam menopang ketahanan pangan dan penyediaan protein hewani masyarakat pesisir. Namun demikian, dinamika produksi antarspesies yang tidak merata serta tekanan permintaan pasar berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan keterjangkauan konsumsi ikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika pertumbuhan produksi ikan pelagis kecil serta mengkaji implikasinya terhadap ketahanan pangan masyarakat pesisir. Studi ini juga mengisi kesenjangan riset yang selama ini lebih menitikberatkan aspek biologi stok dan oseanografi tanpa mengintegrasikan dimensi produksi, harga, dan pangan dalam satu kerangka bioekonomi terpadu. Pendekatan penelitian menggunakan desain bauran (mixed-method) deskriptif-analitis berbasis data sekunder time-series periode 2020–2024 yang mencakup produksi dan harga lima komoditas utama: tongkol, kembung, layang, lemuru, dan teri. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi perikanan nasional, diolah melalui tabulasi, standarisasi, dan perhitungan kontribusi agregat, serta dianalisis menggunakan Compound Annual Growth Rate (CAGR) dan analisis komparatif antarspesies. Interpretasi dilakukan melalui perspektif bioekonomi dan pangan pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi agregat pelagis kecil mengalami pertumbuhan positif, meskipun dengan disparitas antarspesies. Tongkol mendominasi volume produksi, lemuru mencatat pertumbuhan tertinggi. Di sisi lain, seluruh komoditas mengalami kenaikan harga, dengan laju tertinggi pada lemuru dan teri, yang mengindikasikan tekanan permintaan lebih cepat kapasitas suplai. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika produksi dan harga berimplikasi langsung terhadap stabilitas pasokan protein, keterjangkauan konsumsi, dan kesejahteraan rumah tangga nelayan. Kesimpulannya, pelagis kecil merupakan fondasi ketahanan pangan pesisir yang terhadap tekanan eksploitasi dan perubahan pasar. Diperlukan pengelolaan berbasis keberlanjutan stok, penguatan pascapanen, serta stabilisasi distribusi untuk menjaga keseimbangan antara produksi, akses pangan, dan kesejahteraan nelayan.