Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian wacana politik identitas dalam media televisi di Indonesia, dengan fokus pada program Dua Arah di Kompas TV. Menggunakan pendekatan konstruktivis melalui model pembingkaian Robert N. Entman, studi ini meneliti empat elemen: mendefinisikan masalah, mendiagnosis penyebab, membuat penilaian moral, dan memberikan rekomendasi penanganan. Penelitian ini menganalisis episode "Politik Identitas, Jadi Jalan Pintas?" pada tahun 2023 dan menampilkan lima pembicara dari beragam latar belakang, termasuk akademisi, politisi, dan pengamat. Temuan menunjukkan pola pembingkaian yang konsisten di seluruh segmen program yang mengonstruksi politik identitas sebagai ancaman serius bagi demokrasi Indonesia. Analisis pembingkaian mengidentifikasi bagaimana program tersebut mendefinisikan politik identitas sebagai pengganggu diskusi politik substantif, mendiagnosis elit politik sebagai pihak yang mengeksploitasi sentimen identitas demi keuntungan elektoral, menyampaikan kecaman moral yang kuat terhadap praktik tersebut karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, serta merekomendasikan solusi melalui pendidikan pemilih dan regulasi kampanye. Analisis frekuensi kata menunjukkan bahwa "politik identitas" muncul 61 kali dan "agama" 39 kali, yang mengindikasikan fokus pada dimensi keagamaan. Studi ini menyimpulkan bahwa media televisi membingkai politik identitas dengan menyajikan sudut pandang spesifik yang menekankan bahaya mobilisasi politik berbasis identitas, sekaligus mengadvokasi seleksi kepemimpinan berbasis kompetensi, sehingga berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana media membangun wacana politik dalam demokrasi pluralistik di Indonesia. This study examines how identity-politics discourse is framed in Indonesian television, with a specific focus on Kompas TV’s Dua Arah discussion program. Employing a constructionist paradigm and Robert N. Entman’s four-element framing model—define problems, diagnose causes, make moral judgments, and suggest remedies—this research analyzes the episode “Politik Identitas, Jadi Jalan Pintas?” (Identity Politics, A Shortcut?) broadcast in 2023. The episode featured five speakers representing academic, political practitioner, and observer perspectives. Analysis reveals that the program frames identity politics as a threat to democratic quality, attributes its persistence to elite opportunism and structural regulatory deficiencies, condemns its practice on Pancasilaist moral grounds, and recommends voter education alongside stronger campaign enforcement. Word frequency analysis identified “identity politics” (61 occurrences) and “religion” (39 occurrences) as dominant terms, indicating that the religious dimension constitutes the primary axis of concern in identity politics in this context. Crucially, these findings reflect the framing adopted by this specific program and should not be generalized to Indonesian television as a whole. This study contributes to political communication scholarship by demonstrating the applicability of Entman’s model to interactive television discussion formats and by highlighting the role of media ideology in shaping identity politics narratives within Indonesia’s pluralistic democracy.