Isni Aini
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PANDANGAN FILSAFAT ILMU TERHADAP PENERAPAN MODEL PENGELOLAAN “RAPALA EMAS (RUANG PENGELOLAAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT)” SEBAGAI MODEL PENGELOLAAN PERIKANAN GURITA BERKELANJUTAN DI SELAT ALAS Isni Aini; muhammad sarjan
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v6i1.9128

Abstract

Pengelolaan perikanan gurita yang berkelanjutan menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya tekanan pemanfaatan sumber daya laut di Indonesia, khususnya di Selat Alas, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah model pengelolaan lokal RAPALA EMAS (Ruang Pengelolaan Laut Berbasis Masyarakat) yang diinisiasi oleh Yayasan Juang Laut Lestari (JARI) bersama masyarakat nelayan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model RAPALA EMAS dalam perspektif filsafat ilmu, khususnya dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan yang didukung oleh observasi lapangan sebagai studi kasus, dengan pendekatan analisis deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara ontologis RAPALA EMAS memandang sumber daya gurita sebagai bagian dari sistem sosial–ekologis yang saling terkait dan memiliki batas regeneratif. Secara epistemologis, model ini dibangun melalui integrasi pengetahuan lokal masyarakat pesisir, khususnya Suku Bajo, dengan pendekatan ilmiah yang partisipatoris dan kontekstual. Sementara itu, secara aksiologis RAPALA EMAS mengandung nilai etika keberlanjutan, tanggung jawab moral manusia terhadap alam, keadilan sosial, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, RAPALA EMAS tidak hanya berfungsi sebagai model pengelolaan perikanan yang efektif secara teknis, tetapi juga mencerminkan penerapan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama dan keberlanjutan sumber daya laut di Selat Alas
TINJAUAN FILSAFAT TERHADAP KEARIFAN LOKAL SUKU BAJAU DI DESA POTO TANO DALAM PELESTARIAN EKOSISTEM LAUT. Isni Aini; Muhammad Sarjan
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 6 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v6i1.10080

Abstract

Masyarakat Suku Bajau dikenal sebagai komunitas maritim yang memiliki hubungan erat dengan ekosistem laut. Keterikatan tersebut tercermin dalam berbagai bentuk kearifan lokal yang berfungsi menjaga keseimbangan dan keberlanjutan lingkungan laut. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kearifan lokal Suku Bajau di Desa Poto Tano dalam pelestarian ekosistem laut melalui tinjauan filsafat, khususnya etika lingkungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan yang didukung oleh observasi lapangan melalui diskusi dengan masyarakat Bajau. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis untuk menginterpretasikan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam praktik kearifan lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa kearifan lokal Suku Bajau diwujudkan melalui ritual Ngingidah, Tiba Pisah, dan Nyoroh yang berfungsi sebagai bentuk rasa syukur, penghormatan, serta komitmen moral terhadap laut sebagai sumber kehidupan. Ditinjau dari perspektif filsafat etika lingkungan, praktik-praktik tersebut mencerminkan pandangan ekosentrisme, yang menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem dan memiliki tanggung jawab etis dalam menjaga kelestarian laut. Kajian ini menegaskan bahwa kearifan lokal Suku Bajau memiliki relevansi filosofis dan dapat menjadi dasar konseptual dalam pengelolaan ekosistem laut yang berkelanjutan.