p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Social Society
Hatma Aura Rahmah
UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tiktok Marketing as a Digital Branding Strategy in Response to change in Generation Z Consumer Behavior Hatma Aura Rahmah; Tamamudin Tamamudin
Journal Social Society Vol. 6 No. 2 (2026): April - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/jss.6.2.2026.1032

Abstract

The development of digital technology has transformed marketing strategies toward experience-based digital branding, with TikTok emerging as a dominant platform among Generation Z. In Indonesia, the large population of Generation Z makes TikTok a strategic medium for digital marketing through influencer collaborations, viral challenges, and user-generated content. However, existing studies largely focus on quantitative indicators and provide limited insight into consumers’ subjective experiences.This study aims to explore how Generation Z interprets and responds to TikTok marketing strategies as a form of digital branding. A qualitative phenomenological approach was employed by conducting in-depth interviews with 10–15 Generation Z informants aged 18–25 who actively use TikTok and engage with brand content, supported by non-participant observation. Data were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that TikTok marketing significantly influences Generation Z’s consumption behavior, particularly through viral content and influencer trust. High levels of engagement enhance brand awareness and emotional attachment, while repeated exposure to trends encourages impulse buying and consumption as a form of social identity. These results highlight TikTok’s effectiveness as a digital branding platform and offer practical implications for brands and MSMEs in developing authentic and engaging marketing strategies.
Analisis Proyeksi Tingkat Pengangguran Terbuka di 38 Provinsi Periode 2021-2025 Hatma Aura Rahmah; Tamamudin Tamamudin; Ayatullah Sadali
Journal Social Society Vol. 5 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/jss.5.1.2025.674

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika spasial dan temporal Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di 38 provinsi di Indonesia selama periode 2021–2025, di tengah penurunan TPT secara nasional yang belum diikuti dengan pemerataan pemulihan pasar kerja. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami ketimpangan regional dalam pengangguran terbuka sebagai cerminan ketidakmerataan pembangunan, sehingga dapat mendukung perumusan kebijakan ketenagakerjaan yang kontekstual dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan strategi studi dokumenter. Data yang dianalisis merupakan data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik (BPS), laporan pemerintah, serta hasil kajian dari lembaga independen selama periode lima tahun. Teknik analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) untuk memahami faktor-faktor sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang memengaruhi TPT, serta analisis spasial deskriptif untuk memetakan pola dan arah pergeseran pengangguran antarwilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa provinsi di wilayah barat, seperti Jawa Barat dan Banten, mengalami TPT tinggi akibat tekanan urbanisasi, pertumbuhan penduduk usia kerja, dan stagnasi daya serap sektor industri. Sebaliknya, wilayah timur seperti Papua menghadapi hambatan struktural berupa keterbatasan infrastruktur, rendahnya mobilitas kerja, dan lemahnya lembaga pelatihan kerja. Provinsi Bali secara konsisten mencatat TPT terendah karena kekuatan sektor jasa, terutama pariwisata, serta sistem pelatihan vokasional yang adaptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengangguran terbuka tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi, melainkan juga oleh aspek demografi, geografis, dan kelembagaan. Temuan ini menegaskan perlunya strategi ketenagakerjaan berbasis lokal yang adaptif terhadap kondisi wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan kemiskinan secara lebih inklusif.