Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERBEDAAN MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA PADA SISWA SMU DI KABUPATEN MANGGARAI Domino, Primus
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol 8 No 1 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2016/39

Abstract

Abstract: Difference of  Achievement Motivation  Viewed from Parenting Pattern  to the Students of High schools in Manggarai  Regency, Flores.  The objective of the research is to determine the dominant type of parenting pattern employed by parents in Manggarai with regard to educating and growing up their children. It is also aimed at examine the effect of  parents-parenting pattern toward the students’ achievement motivation. The researcher assumes that improper parents-parenting pattern can cause  low achievement motivation to high school students in Manggarai regency. The scale of parents-parenting pattern and the scale of achievement motivation were used as the instruments. The former scale includes three models of parenting based on Baumrind, namely : authoritarian, permissive, and authoritative. The latter one follows the characteristics of achievement by Mclaelland. Both instruments were administered to 43 subjects who were selected by stratified random sampling technique at the second grade of Language program at SMU Setia Bakti Ruteng. The data were analyzed by t test for independent means with tests of between subject effects. The data were then computed by SSPS for Windows version 16.0. The results demonstrate that the r value is 0.121 at the significance of value 0.076 > 0.05. In this case, the research hypothesis was rejected which means that there is no significant difference between achievement motivation and parents-parenting patterns. This finding is not in line with the current theories of parents parenting. There were two reasons; first, most subjects do not live with their parents that makes unclear concept of parents parenting, and second, Manggaraian people do not have specific structure and pattern of  parenting. Keywords: achievement motivation, parenting parents Abstrak: Perbedaan Motivasi Berprestasi Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua Pada Siswa SMU di Kabupaten Manggarai, Flores. Penelitian ini dilakukan untuk  mengetahui jenis pola asuh yang dominan dipakai oleh orang tua di Manggarai dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Penelitian ini juga ingin menemukan, bagaimana pengaruh dari pola asuh tersebut terhadap motivasi berprestasi dari siswa-siswa SMU di Kabupaten Manggarai. Peneliti berasumsi, pola asuh orang tua yang tidak tepat menyebabkan rendahnya motivasi berprestasi siswa SMA/MA dan SMK di Manggarai. Peneliti menggunakan 2 jenis alat ukur dalam penelitian ini yaitu skala pola asuh orang tua dan skala motivasi berprestasi. Skala pola asuh orang tua disusun berdasarkan tiga jenis pola asuh dari Baumrind, yaitu: Pola asuh otoritarian, pola asuh permisif dan pola asuh otoritatif. Sedangkan skala motivasi berprestasi disusun berdasarkan ciri-ciri siswa berprestasi menurut Mclaelland. Kedua alat ukur tersebut diberikan kepada 43 subyek siswa kelas II Bahasa SMU Setia Bakti Ruteng yang dipilih dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Hasil uji  t test for independent means dengan memakai teknik statistik tests of between subjects effects untuk mengetahui sumbangan pola asuh orang tua terhadap motivasi berprestasi dengan menggunakan bantuan program komputer SSPS for Windows versi 16.0. menunjukkan r sebesar 0,121, dengan nilai signifikansi 0,076 > 0,05. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak atau tidak diterima, dan hasil penelitian menyimpulkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal motivasi berprestasi antara pola asuh otoriter, demokratis dan permisif. Hasil penelitian tidak sesuai dengan teori-teori tentang pola asuh orang tua yang telah ada sebelumnya. Hal ini disebabkan karena:  pertama, Siswa yang menjadi subyek penelitian ini sebagian  besar tidak tinggal dengan orang tuanya, sehingga jenis pemahaman mereka tentang pola asuh dari orang tua asli menjadi kabur. Kedua, masyarakat Manggarai tidak memiliki struktur dan alur pola asuh yang jelas, sehingga hasil sebaran pola asuh antara orang tua dalam keluarga yang berbeda cenderung menghasilkan pola yang sama. Kata kunci: motivasi berprestasi, pola asuh orang tua
Investasi Dalam Bidang Pendidikan Anak Untuk Meningkatkan Kualitas Kehidupan Keluarga. Domino, Primus
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Guru Sekolah Dasar STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia masih memiliki banyak persoalan berkaitan dengan kesejahteraan dan kemajuandalam berbagai bidang dan masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain untuk menuju sebuah bangsayang maju. Hal tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi dan rendahnya apresiasi masyarakat pada duniapendidikan. Kebanyakan orang tua tidak memandang pendidikan anak sebagai suatu hal yang pentingsehingga tidak melakukan perencanaan terhadap masa depan anak, terutama hal-hal yang berkaitan denganpemenuhan kebutuhan pendidikannya. Keluarga memiliki peran penting untuk membuat masa depan anaklebih baik serta membuat pendidikan anak lebih berkualitas. Cara yang terbaik untuk meningkatkan kualitaspendidikan anak adalah dengan melakukan investasi dalam bidang pendidikan, karena menjamin masadepan anak yang lebih baik. Investasi dalam bidang pendidikan juga mampu menciptakan Sumber DayaManusia bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki etika, moral, rasa tanggungjawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikatormanusia yang lebih baik, berkualitas dan bermutu. Bentuk investasi dalam pendidikan yang dapat dipiliholeh orang tua sebagai upaya menciptakan masa depan anak yang lebih baik adalah dengan berinvestasi dipasar saham dan reksadana, membuat tabungan pendidikan di Bank atau koperasi. Cara lainnya berinvestasiuntuk pendidikan anak adalah arisan, membuka usaha, membeli ternak atau berinvestasi dengan membelitanah.
Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Untuk Menjadi Pengrajin Produk Kerajinan Bambu Domino, Primus
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Guru Sekolah Dasar STKIP Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Untuk Menjadi Pengrajin Produk Kerajinan Bambu. Tanaman bambu banyak ditemukan di daerah pedesaan  di Indonesia. Data tahun 2010 oleh Profesor Soemarno menunjukkan sebanyak 37, 93 juta rumpun bambu tumbuh di Indonesia, sekitar sekitar 76,83 % tumbuh di daerah Jawa, sedangkan sisanya sekitar 8,79 juta rumpun (23,17 %)  berada di luar Jawa. Sementara itu, bambu merupakan salah satu komoditas ekonomi yang jika dimanfaatkan dengan baik dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Meskipun tanaman bambumemiliki  nilai ekonomis yang tinggi, Selama ini, namun tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, hanya dibiarkan menua, atau sebatas untuk membuat pagar, gubuk untuk dapur kayu api atau gubuk sederhana di sawah. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak menyadari bahwa bambu dapat dijadikan bahan baku utama dalam pembuatan berbagai aneka produk kerajinan. Lebih dari itu, masyarakat enggan menjadi pengrajin bambu karena tidak memiliki ketrampilan yang memadai untuk mengolah tanaman bambu tersebut menjadi produk dan kerajinan berdaya jual tinggi. Ada banyak produk kerajinan, mebel dan furnitur yang dibuat dari bahan batang bambu dan dapat dijual untuk mememenuhi kebutuhan keluarga. Kebanyakan masyarakat belum menyadari hal tersebut, sehingga diperlukan berbagai upaya dan kegiatan-kegiatan untuk  membuat masyarakat tertarik dan termotivasi untuk menjadi pengrajin bambu. Untuk membuat masyarakat menyadari tentang manfaat besar dari bambu untuk peningkatan penghasilan dan perbaikan kesejahteraan, diperlukan berbagai upaya dan kegiatan melalui berbgai acara, diantaranya: 1. melakukan ceramah dan diskusi dengan masyarkat untuk menumbuhkan motivasi masyarakat agar mau menjadi pengrajin bambu, 2. melakukan pelatihan bagi masyarakat yang mau menjadi pengrajin bambu dalam mengenali berbagai jenis model dan desain produk kerajinan bambu; dan 3. meningkatkan pengetahuan pengrajin yang telah memiliki usaha industri kerjainan bambu tentang manajemen usaha dan manajemen pemasaran produk industri kerajinan bambu.  Dengan demikian, masyarakat mau menjadi pengrajin bambu; tidak hanya menjadi pengrajin musiman tetapi menjadi perajin profesional, serta menjadi pengusaha kerajinan bambu yang sukses.
INVESTASI DALAM BIDANG PENDIDIKAN ANAK UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN KELUARGA Primus Domino
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol. 2 No. 1 (2018): JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar)
Publisher : PGSD UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Investasi Dalam Bidang Pendidikan Anak Untuk Meningkatkan Kualitas Kehidupan Keluarga. Indonesia masih memiliki banyak persoalan berkaitan dengan kesejahteraan dan kemajuan dalam berbagai bidang dan masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain untuk menuju sebuah bangsa yang maju. Hal tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi dan rendahnya apresiasi masyarakat pada dunia pendidikan. Kebanyakan orang tua tidak memandang pendidikan anak sebagai suatu hal yang penting sehingga tidak melakukan perencanaan terhadap masa depan anak, terutama hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pendidikannya. Keluarga memiliki peran penting untuk membuat masa depan anak lebih baik serta membuat pendidikan anak lebih berkualitas. Cara yang terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak adalah dengan melakukan investasi dalam bidang pendidikan, karena menjamin masa depan anak yang lebih baik. Investasi dalam bidang pendidikan juga mampu menciptakan Sumber Daya Manusia bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator manusia yang lebih baik, berkualitas dan bermutu. Bentuk investasi dalam pendidikan yang dapat dipilih oleh orang tua sebagai upaya menciptakan masa depan anak yang lebih baik adalah dengan berinvestasi di pasar saham dan reksadana, membuat tabungan pendidikan di Bank atau koperasi. Cara lainnya berinvestasi untuk pendidikan anak adalah arisan, membuka usaha, membeli ternak atau berinvestasi dengan membeli tanah.
MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT UNTUK MENJADI PENGRAJIN PRODUK KERAJINAN BAMBU Primus Domino
JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar) Vol. 1 No. 2 (2017): JIPD (Jurnal Inovasi Pendidikan Dasar)
Publisher : PGSD UNIKA SANTU PAULUS RUTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Untuk Menjadi Pengrajin Produk Kerajinan Bambu. Tanaman bambu banyak ditemukan di daerah pedesaan di Indonesia. Data tahun 2010 oleh Profesor Soemarno menunjukkan sebanyak 37, 93 juta rumpun bambu tumbuh di Indonesia, sekitar sekitar 76,83 % tumbuh di daerah Jawa, sedangkan sisanya sekitar 8,79 juta rumpun (23,17 %) berada di luar Jawa. Sementara itu, bambu merupakan salah satu komoditas ekonomi yang jika dimanfaatkan dengan baik dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Meskipun tanaman bambumemiliki nilai ekonomis yang tinggi, Selama ini, namun tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, hanya dibiarkan menua, atau sebatas untuk membuat pagar, gubuk untuk dapur kayu api atau gubuk sederhana di sawah. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak menyadari bahwa bambu dapat dijadikan bahan baku utama dalam pembuatan berbagai aneka produk kerajinan. Lebih dari itu, masyarakat enggan menjadi pengrajin bambu karena tidak memiliki ketrampilan yang memadai untuk mengolah tanaman bambu tersebut menjadi produk dan kerajinan berdaya jual tinggi. Ada banyak produk kerajinan, mebel dan furnitur yang dibuat dari bahan batang bambu dan dapat dijual untuk mememenuhi kebutuhan keluarga. Kebanyakan masyarakat belum menyadari hal tersebut, sehingga diperlukan berbagai upaya dan kegiatan-kegiatan untuk membuat masyarakat tertarik dan termotivasi untuk menjadi pengrajin bambu. Untuk membuat masyarakat menyadari tentang manfaat besar dari bambu untuk peningkatan penghasilan dan perbaikan kesejahteraan, diperlukan berbagai upaya dan kegiatan melalui berbgai acara, diantaranya: 1. melakukan ceramah dan diskusi dengan masyarkat untuk menumbuhkan motivasi masyarakat agar mau menjadi pengrajin bambu, 2. melakukan pelatihan bagi masyarakat yang mau menjadi pengrajin bambu dalam mengenali berbagai jenis model dan desain produk kerajinan bambu; dan 3. meningkatkan pengetahuan pengrajin yang telah memiliki usaha industri kerjainan bambu tentang manajemen usaha dan manajemen pemasaran produk industri kerajinan bambu. Dengan demikian, masyarakat mau menjadi pengrajin bambu; tidak hanya menjadi pengrajin musiman tetapi menjadi perajin profesional, serta menjadi pengusaha kerajinan bambu yang sukses.
PERBEDAAN MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA PADA SISWA SMU DI KABUPATEN MANGGARAI Primus Domino
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 8 No. 1 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.118 KB) | DOI: 10.36928/jpkm.v8i1.83

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis pola asuh yang dominan dipakai oleh orang tua di Manggarai dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Penelitian ini juga ingin menemukan, bagaimana pengaruh dari pola asuh tersebut terhadap motivasi berprestasi dari siswa-siswa SMU di Kabupaten Manggarai. Peneliti berasumsi, pola asuh orang tua yang tidak tepat menyebabkan rendahnya motivasi berprestasi siswa SMA/MA dan SMK di Manggarai. Peneliti menggunakan 2 jenis alat ukur dalam penelitian ini yaitu skala pola asuh orang tua dan skala motivasi berprestasi. Skala pola asuh orang tua disusun berdasarkan tiga jenis pola asuh dari Baumrind, yaitu: Pola asuh otoritarian, pola asuh permisif dan pola asuh otoritatif. Sedangkan skala motivasi berprestasi disusun berdasarkan ciri-ciri siswa berprestasi menurut Mclaelland. Kedua alat ukur tersebut diberikan kepada 43 subyek siswa kelas II Bahasa SMU Setia Bakti Ruteng yang dipilih dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Hasil uji t test for independent means dengan memakai teknik statistik tests of between subjects effects untuk mengetahui sumbangan pola asuh orang tua terhadap motivasi berprestasi dengan menggunakan bantuan program komputer SSPS for Windows versi 16.0. menunjukkan r sebesar 0,121, dengan nilai signifikansi 0,076 > 0,05. Dengan demikian hipotesis penelitian ditolak atau tidak diterima, dan hasil penelitian menyimpulkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal motivasi berprestasi antara pola asuh otoriter, demokratis dan permisif. Hasil penelitian tidak sesuai dengan teori-teori tentang pola asuh orang tua yang telah ada sebelumnya. Hal ini disebabkan karena: pertama, Siswa yang menjadi subyek penelitian ini sebagian besar tidak tinggal dengan orang tuanya, sehingga jenis pemahaman mereka tentang pola asuh dari orang tua asli menjadi kabur. Kedua, masyarakat Manggarai tidak memiliki struktur dan alur pola asuh yang jelas, sehingga hasil sebaran pola asuh antara orang tua dalam keluarga yang berbeda cenderung menghasilkan pola yang sama.
Agresi dan Culture of Honor di Manggarai, Nusa Tenggara Timur Primus Domino
Jurnal Penelitian Kualitatif Ilmu Perilaku Vol 1 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manggarai culture approves aggression for self-protection and self-respect, family or group called culture of honor. This culture is manifested in caci dance, sparring and belis. The attempts to injure opponents in the caci dance are carried out to preserve self respect, village honor, and group honor; Likewise, a fighting match occurs because the Manggarai people do not want the land which is their honor threatened to be taken by someone else. Other forms of culture of honor in Manggarai are the practice of belis, which shows patriarchal culture; men have a role as the main control in family and community life. This legalizes the violence committed by fathers in the family to maintain its reputation for masculinity.