Abstrak: Sektor manufaktur memainkan peran strategis dalam pembangunan ekonomi regional, namun posisinya dalam struktur ekonomi Kota Sorong masih kurang diteliti. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto Regional (PDB) Kota Sorong dan mengidentifikasi posisinya sebagai sektor basis atau non-basis selama periode 2020–2024. Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan dengan menggunakan data sekunder deret waktu yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kontribusi dan analisis Location Quotient (LQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi sektor manufaktur terhadap total PDB Kota Sorong berkisar antara 5,83% hingga 6,08%, dengan kontribusi tertinggi tercatat pada tahun 2021 sebesar 6,08%, diikuti oleh penurunan bertahap menjadi 5,90% pada tahun 2024, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor ini lebih lambat daripada pertumbuhan ekonomi keseluruhan Kota Sorong. Selanjutnya, nilai LQ sepanjang periode pengamatan berkisar antara 0,28 hingga 0,30, secara konsisten di bawah satu, yang mengklasifikasikan sektor manufaktur sebagai sektor non-basis. Disimpulkan bahwa sektor manufaktur belum mengembangkan keunggulan komparatif dan masih bergantung pada pasokan dari daerah lain. Oleh karena itu, intervensi kebijakan yang tepat sasaran diperlukan untuk memperkuat sektor ini agar dapat berkembang menjadi sektor basis yang memberikan kontribusi lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan Kota Sorong.Abstrak: Sektor industri pengolahan memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi daerah, namun posisinya dalam struktur perekonomian Kota Sorong masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Sorong dan mengidentifikasi lokasi sebagai sektor basis atau non basis selama periode 2020–2024. Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan dengan data sekunder berbentuk time series yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sorong dan Provinsi Papua Barat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kontribusi dan analisis Location Quotient (LQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi sektor industri pengolahan terhadap total PDRB Kota Sorong berkisar antara 5,83% hingga 6,08%, dengan kontribusi tertinggi pada tahun 2021 sebesar 6,08% yang kemudian menurun secara bertahap hingga 5,90% pada tahun 2024, mengindikasikan bahwa pertumbuhan sektor ini lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi Kota Sorong secara. Selain itu, nilai LQ sepanjang periode pengamatan berkisar antara 0,28 hingga 0,30, semuanya berada di bawah satu, sehingga sektor industri pengolahan dikategorikan sebagai sektor non-basis. Disimpulkan bahwa sektor industri pengolahan belum memiliki keunggulan komparatif dan masih bergantung pada pasokan dari daerah lain. Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan yang terarah untuk memperkuat sektor ini agar dapat berkembang menjadi sektor basis yang berkontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Kota Sorong secara berkelanjutan.