Styrofoam menimbulkan masalah serius bagi lingkungan dan kesehatan, sehingga diperlukan alternatif kemasan berkelanjutan berbasis biomaterial. Studi ini mengembangkan biofoam berbasis limbah kulit singkong dengan pendekatan baru melalui evaluasi sinergis antara kitosan, polivinil alkohol (PVA), dan gliserol terhadap sifat fisik dan mekanik material. Biofoam disintesis melalui gelatinisasi pati (1:2 b/v, 78 °C), diikuti penambahan kitosan (1, 2, dan 3 g), PVA (10 dan 15%), gliserol (10 dan 15%), protein (10%), asam sitrat (10%), NaHCO3 (1,2%), dan magnesium stearat (4%), kemudian dicetak menggunakan metode thermopressing (125 °C, 15 menit). Karakterisasi meliputi densitas, daya serap air, kuat tekan, FTIR (Fourier Transform Infrared), dan XRD (X-Ray Diffraction). Hasil terbaik menunjukkan kuat tekan sebesar 0,71 MPa dengan penambahan kitosan 1 g, sementara gliserol 10% dan PVA 10% meningkatkan fleksibilitas, tetapi juga meningkatkan daya serap air hingga 25,40% dan densitas menjadi 0,4235 g/cm3. Analisis FTIR mengindikasikan adanya interaksi antargugus fungsi yang mendukung peningkatan sifat mekanik, sedangkan analisis XRD mengindikasikan adanya struktur semi-kristalin yang mendukung sifat mekanik biofoam. Hasil menunjukkan bahwa kitosan meningkatkan kekuatan mekanik melalui interaksi antarmolekul, sedangkan gliserol berperan sebagai plastisiser yang meningkatkan fleksibilitas, tetapi juga meningkatkan daya serap air. Biofoam berbasis kulit singkong pada formulasi optimal memenuhi standar komersial pada parameter yang diuji, sehingga berpotensi diaplikasikan sebagai kemasan pelindung ringan (cushioning packaging) untuk produk nonpangan sebagai pengganti styrofoam.