Ahmad Yani Nasution
Universitas Pamulang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

AGAMA LOKAL SUNDA WIWITAN KOMUNITAS SUKU BADUY KENEKES KECAMATAN LUWIH DAMAR, KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN Mohamad Jazuli; Ahmad Yani Nasution
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 9 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v9i2.5164

Abstract

Abstrak Suku Baduy dikenal sebagai penganut agama Sunda Wiwitan yaitu suatu kepercayaan lokal. yang mempercayai adanya Tuhan dan malaikat serta para nabi. Kehidupan masyarakat Baduy sangat sederhana dan selalu menjaga kelestarian alam karena, hal tersebut menjadi salah satu cara ibadah dan rukun Sunda Wiwitan. Lokasi penelitian adalah Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, dipilih karena masyarakat Baduy di sana masih kuat menjalankan tradisi adat mereka. Penelitian ini mengulas nilai-nilai dalam Sistem Kepercayaan Sunda Wiwitan suku Baduy di Banten. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami realitas sosial dengan lebih mendalam. Penelitian berfokus pada analisis pada kepercayaan Baduy dengan penekanan pada unsur-unsur yang memengaruhinya. Untuk memastikan validitas data, teknik triangulasi sumber dan teori digunakan, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Secara akademis, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan secara ilmiah dan akademis terhadap khazanah pengembangan ilmu sosial terlebih dalam masalah yang ada di masyarakat. Dan selanjutnya diharapkan pula penelitian ini dapat dikembangkan kembali bagi peneliti yang tertarik lebih lanjut mengkaji penelitian ini. Kesimpulan penelitian ini: Ajaran Sunda Wiwitan yang dianut oleh Suku Baduy merupakan suatu bentuk Agama sinkretik. Mereka meyakini keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, yang mereka sebut Gusti nu Maha Suci Allah nu Maha Kuasa, sebagai pencipta seluruh alam dan isinya. Di samping itu, mereka juga mengimani adanya malaikat serta nabi-nabi, seperti Nabi Adam dan Nabi Muhammad. Keyakinan mereka kepada Allah tampak dalam pengucapan kalimat syahadat baduy, sementara praktik ritual keagamaan mereka berlandaskan pada pikukuh yaitu aturan adat dan ketaatan pada buyut yang dijaga turun menurun oleh puun. Bentuk kepercayaan Sunda Wiwitan mendorong mereka untuk menjaga keharmonisan hutan, sungai, dan gunung, sedangkan bentuk ritual mereka terlihat di antaranya dalam pelaksanaan ritual ibadah di Sasaka Domas, tempat suci masyarakat Baduy Luaran penelitian utama penelitian ini yaitu artikel ilmiah yang dimuat pada jurnal nasional terindeks sinta. Kata kunci: Agama Lokal, Sunda Wiwitan.
Analisis Normatif Filosofis terhadap Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Hukum Pengendalian Perubahan Iklim Global Ahmad Yani Nasution
Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47971/mjhi.v8i2.1502

Abstract

Global climate change threatens human health, socio-economic stability, and environmental sustainability. This study aims to normatively-philosophically analyze the legal construction and scriptural argumentation in the Indonesian Council of Ulama (MUI) Fatwa No. 86 of 2023 on the Law of Global Climate Change Control, as well as to assess its coherence with the principles of maqāṣid al-sharī‘ah and contemporary Islamic environmental ethics. The approach employed is content analysis of the official text of the fatwa as the primary source, supported by books and academic journals on climate change as secondary sources. This research fills a gap in the literature, which has so far tended to highlight the practical fiqhiyyah aspects of MUI environmental fatwas, by offering a philosophical reading of the maqāṣid-based rationality and the istislāḥī–sadd al-dharī‘ah framework used in the formulation of the fatwa. The findings show that MUI Fatwa No. 86 of 2023 affirms the prohibition of environmental destruction and the obligation of climate mitigation and adaptation as part of the protection of life, property, and the preservation of the earth, thereby theoretically enriching the discourse on fiqh al-bi’ah and practically strengthening the normative basis for climate change control movements and policies in Indonesia.