Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kebijakan Publik di Tingkat Lokal: Studi Kasus Integrasi Nilai Adat dan Partisipasi Publik dalam Tata Kelola Pemerintahan Kabupaten Kampar Sintya Mery; Siti Fatimah; Azmi Fitrisia
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 1 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v7i1.9862

Abstract

Era desentralisasi menuntut pemerintah daerah untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dan nilai-nilai adat dalam kebijakan publik. Namun, proses integrasi antara sistem pengetahuan modern-birokratis dengan sistem pengetahuan tradisional-adat seringkali menghadapi ketegangan epistemologis yang mendalam. Studi ini menganalisis proses pemaknaan, operasionalisasi, dan legitimasi nilai-nilai adat Kampar dalam kerangka tata kelola pemerintahan formal di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang terlibat (pejabat pemerintah, tokoh adat, anggota DPRD, dan masyarakat adat), observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Pendekatan kualitatif interpretatif dan metode studi kasus instrumental digunakan dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan hermeneutika filosofis Gadamer, analisis tematik, dan analisis relasi kuasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai adat di Kabupaten Kampar bersifat instrumental daripada substantif, didominasi oleh logika selektif yang mengadopsi aspek-aspek nilai adat yang kompatibel dengan birokrasi modern. Pengetahuan adat mengalami ketidakadilan epistemik (epistemic injustice), menjadi simbol ceremonial tanpa daya operasional signifikan dalam pengambilan keputusan publik. Partisipasi masyarakat adat dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan juga menunjukkan pola formalistik, dimana kesaksian dan argumen tetua adat dianggap kurang "teknis" dibandingkan data statistik. Studi ini menyimpulkan bahwa transformasi epistemologis yang mengakui kesetaraan berbagai bentuk pengetahuan dan mengembangkan mekanisme dialog sejati antara pengetahuan adat dan modern diperlukan untuk mencapai tata kelola pemerintahan yang lebih inklusif, responsif, dan berkelanjutan. Pengakuan terhadap pluralitas epistemologis bukan hanya relevan secara akademis, tetapi memiliki implikasi praktis signifikan dalam membangun keadilan sosial yang lebih komprehensif di masyarakat multikultural Indonesia.
Fenomena Rojali dan Rohana: Tinjauan Filsafat Ilmu terhadap Transformasi Perilaku Konsumen di Era Resesi Indonesia 2025 Finan Sari Lubis; Siti Fatimah; Azmi Fitrisia
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9658

Abstract

Penelitian kualitatif-deskriptif ini bertujuan mengeksplorasi Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan hanya nanya) sebagai respons adaptif konsumen terhadap proyeksi Resesi Indonesia 2025 melalui tinjauan kritis Filsafat Ilmu. Pendekatan yang digunakan adalah Library Research (Studi Kepustakaan). Data dikumpulkan melalui telaah literatur ilmiah yang sistematis, meliputi jurnal dan laporan akademis kredibel yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025 (Adlini et al., 2022). Analisis data dilakukan dengan Content Analysis dan Thematic Analysis untuk menyusun sintesis konseptual. Temuan utama menunjukkan bahwa Rojali merupakan manifestasi rasional dari strategi Precautionary Saving (Perbanas, 2025) dan cerminan keberhasilan Self-Control kognitif dalam menahan keinginan sesaat untuk berbelanja. Secara filosofis, penelitian ini menegaskan bahwa fenomena ini berakar pada Ontologi Nominalisme (realitas subjektif), yang menuntut pendekatan anti positivisme (idiografis) untuk menggali makna di baliknya. Kontribusi teoretis utama adalah pengembangan kerangka Voluntarisme Konsumen. Kesimpulan utama menekankan bahwa perilaku konsumen saat ini didominasi oleh kewaspadaan mendalam. Implikasi kebijakan menyarankan bahwa stimulus ekonomi tidak akan efektif tanpa didukung oleh reformasi struktural yang memperkuat kepercayaan dan stabilitas jangka panjang. Penelitian lanjutan berbasis lapangan direkomendasikan untuk memvalidasi kerangka Voluntarisme Konsumen.
Nilai Kearifan Lokal Pada Pelestarian Lingkungan Ikan Larangan Lubuak Landua Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat Siska Rina; Siti Fatimah; Azmi Fitrisia
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9676

Abstract

Konservasi sumber daya perairan daratan (PUD) di Indonesia semakin mendesak akibat tekanan aktivitas manusia dan hilangnya habitat ikan lokal. Salah satu pendekatan yang terbukti adaptif ialah konservasi berbasis kearifan lokal, seperti tradisi Lubuk Larangan di Sumatera Barat. Penelitian ini menelusuri nilai-nilai kearifan lokal dalam praktik Ikan Larangan di Lubuak Landua, Nagari Aua Kuniang, Kabupaten Pasaman Barat, serta perannya dalam pelestarian lingkungan berkelanjutan. Tradisi ini berakar sejak 1852 oleh Buya Lubuak Landua, dengan prinsip Local Accountability, di mana masyarakat lokal memegang kendali penuh terhadap pengelolaan sumber daya air. Pendekatan penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara, observasi, literatur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai adat setempat berperan penting dalam menjaga kelestarian ikan dan ekosistem sungai. Tata kelola Ikan Larangan bertumpu pada tiga pilar utama: mitos lokal, hukum adat, dan kelembagaan adat yang kokoh. Secara ekologis, tradisi ini efektif menjaga keberlanjutan populasi ikan bernilai ekonomi serta kebersihan sungai. Selain fungsi ekologis, kawasan ini juga berkembang menjadi destinasi wisata religi yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.