Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Adaptasi Wajib Pajak Terhadap Coretax DJP Pada Masa Transisi 2025-2026: Netnografi Diskursus Publik Digital Happy Tatemba; Harke Revo Leonard Polii
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 7 No. 6 (2026): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/5p31c423

Abstract

This study examines the adaptation of individual taxpayers (non-employees) and Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) to the implementation of the Directorate General of Taxes (DJP) Coretax system during the 2025–2026 transition period. The research employs a qualitative approach using netnography and qualitative content analysis of 48 purposively selected units of publicly available digital texts derived from official DGT documents, tax regulations, online news media, X/Twitter, YouTube, Instagram, and Facebook. The verified official data incorporated in this study include the pre-implementation phase (16–31 December 2024), the full implementation on 1 January 2025, the DJP official statement containing data as of 9 January 2025 at 18:55 WIB, the administrative sanctions relief policy under Decree KEP-67/PJ/2025, and data as of 5 March 2026 indicating that more than 6 million Annual Income Tax Returns (SPT) for Fiscal Year 2025 had been submitted, 15,268,493 Coretax accounts had been activated, and 12,514,829 individual taxpayers had registered for Authorization Codes/Electronic Certificates. The findings reveal three major themes: digital transition shock and procedural confusion, digital literacy gaps among non-employee individual taxpayers and MSMEs, and fluctuations in public trust toward the tax authority. The study demonstrates that technical difficulties do not occur in isolation; rather, they evolve into procedural uncertainty, encourage users to rely on informal learning resources and online tutorials, and ultimately influence trust in the DJP. The novelty of this article lies in its explanation of digital spaces as mechanisms of collective adaptation that operate through technical frictions, informal learning processes, and the reconstruction of trust during the adoption of digital taxation services. Practical implications include the need to strengthen user experience design, provide segmented digital literacy assistance, develop responsive risk communication strategies, and utilize digital spaces as valuable sources of policy feedback.  
Representasi Strategis Promosi dan Loyalitas Pelanggan pada Ritel Minimarket: Analisis Isi Kualitatif atas Dokumen Resmi Indomaret dan Alfamart Harke Revo Leonard Polii; Sandra J. R Kainde; Happy Tatemba; Edi Noersasongko
Advances: Jurnal Ekonomi & Bisnis Vol. 4 No. 4 (2026): July - August
Publisher : Yayasan Pendidikan Bukhari Dwi Muslim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60079/ajeb.v4i4.914

Abstract

Tujuan: Penelitian ini menganalisis bagaimana promosi dan loyalitas pelanggan direpresentasikan secara strategis dalam dokumen resmi Indomaret dan Alfamart. Fokus penelitian bukan untuk mengukur efektivitas strategi aktual, melainkan untuk membaca bagaimana kedua peritel membingkai promosi, keanggotaan, insentif berulang, dan kanal digital sebagai teks korporat yang ditujukan kepada publik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif-komparatif melalui studi dokumen dan analisis isi kualitatif terhadap 14 dokumen resmi yang divalidasi pada 1 Mei 2026. Korpus mencakup halaman promosi, halaman keanggotaan, dokumen aplikasi digital, blog resmi, profil korporat, serta laporan tahunan. Data dianalisis dengan pendekatan hibrida melalui pembacaan berulang, pengodean unit makna, pengelompokan kategori, audit trail, dan code-recode. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua peritel merepresentasikan promosi sebagai proposisi nilai yang menekankan hemat, urgensi, kemudahan, eksklusivitas anggota, dan manfaat berulang. Indomaret lebih menonjolkan variasi tema serta bahasa promosi yang dekat dengan rutinitas belanja harian, sementara Alfamart lebih menonjolkan keteraturan program, mekanisme poin, dan keterhubungan online-offline melalui Alfagift. Perbedaan ini tidak dipahami sebagai oposisi biner, karena Indomaret juga memiliki integrasi digital dan Alfamart juga menggunakan bahasa promosi persuasif. Implikasi: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua peritel merepresentasikan promosi sebagai proposisi nilai yang menekankan penghematan, urgensi, kemudahan, eksklusivitas anggota, dan manfaat berulang. Indomaret lebih menonjolkan variasi tema serta bahasa promosi yang dekat dengan rutinitas belanja harian, sementara Alfamart lebih menonjolkan keteraturan program, mekanisme poin, dan keterhubungan online-offline melalui Alfagift. Perbedaan ini tidak dipahami sebagai oposisi biner, karena Indomaret juga memiliki integrasi digital dan Alfamart juga menggunakan bahasa promosi persuasif. Orisinalitas: Penelitian ini menggeser unit analisis dari persepsi konsumen ke dokumen korporat sebagai teks strategis serta mengembangkan arsitektur manfaat sebagai lensa analitis untuk membaca hubungan antara promosi, keanggotaan, dan loyalitas digital dalam ritel minimarket.